Wednesday, November 21, 2012

Merenungi makna dibalik dzikir keluar rumah 2




Dzikir ini adalah dzikir yang mungkin telah banyak kita ketahui, telah sering kita amalkan… Ya, dzikir itu adalah dzikir keluar rumah. Namun apakah kita telah memahami kandungan yang sangat agung dibaliknya?



Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta ‘ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
BEKERJALAH dengan sungguh-sungguh dengan apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah.

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا
Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu’.

وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Tetapi katakanlah; ‘lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata ‘law’ (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan syetan.’” [HR Muslim]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda:
لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ
“Seandainya ada seseorang di antara kalian mencari seonggok kayu bakar lalu dipanggul (ke pasar untuk dijual), lebih baik daripada meminta kepada seseorang, terkadang diberi dan terkadang tidak”. [Muttafaqun 'alayh]

Said bin Musayyib berkata: “Barangsiapa berdiam di masjid dan meninggalkan pekerjaan, lalu menerima pemberian yang datang kepadanya, maka (ia) termasuk mengharap sesuatu dengan cara meminta-minta”. [Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 300]

Abu Qasim Al Khatli bertanya kepada Imam Ahmad: “Apa pendapat anda terhadap orang yang hanya berdiam di rumah atau di sebuah masjid, lalu berkata ‘aku tidak perlu bekerja karena rezekiku tidak akan lari dan pasti datang’?” Maka beliau menjawab: “Orang tersebut bodoh terhadap ilmu. Apakah (ia) tidak mendengarkan sabda Rasulullah : “Allah menjadikan rezekiku di bawah kilatan pedang (jihad)’ ” [Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 302]

Sahl bin Abdullah At Tustari berkata,”Barangsiapa yang merusak tawakkal, berarti telah merusak pilar keimanan. Dan barangsiapa yang merusak pekerjaan, berarti telah membuat kerusakan dalam Sunnah.” [Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 299]

Untuk lebih lengkapnya tentang tawakkal silahkan disimak artikel: “Sembahlah Allah dan Bertawakkallah kepadaNya! 

Sabda beliau:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Laa hawla wa laa quwwata illa billaah
Kalimat al-Hawqolah, sebagaimana dikatakan oleh para ulama, mengandung konsekuensi makna; “isti’aanah (memohon pertolongan) hanya kepada Allah.”

Karena kalimat ini berisi ikrar hamba, bahwasanya ia sedikitpun tidak memiliki daya dan kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan dan menghindar dari apa yang dibencinya, kecuali dengan daya dan kekuatan (pertolongan) dari al-Maula, yaitu Allah semata.
Sungguh para Salaf begitu mendalam pemahamannya tentang rahasia makna kalimat ini. Renungkanlah bagaimana Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu menafsirkan makna al-Hawqolah (Laa hawla walaa quwwata illaa billaah) dengan ucapannya:
لاَ حَوْلَ بِنَا عَلَى الْعَمَلِ بِالطَّـاعَةِ إلاَّ بِاللهِ، وَلاَ قُوَّةَ لَنَا عَلَى تَرْكِ الْمَعْصِيَةِ إلاَّ بِاللهِ
“Tidak ada kemampuan bagi kami dalam melakukan amalan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak ada kekuatan bagi kami untuk meninggalkan maksiat kecuali dengan pertolongan dari Allah (pula).”

Demikian pula Zuhair bin Muhammad pernah ditanya tentang makna “Laa hawla walaa quwwata illaa billaah”, lalu beliau menjawab:
لاَ تَأْخُذُ مَا تُحِبُّ إِلاِّ بِاللهِ، وَلاَ تَمْتَنِعُ مِمَّا تَكْرَهُ إِلاَّ بِعَوْنِ اللهِ
“Engkau tidak akan mampu meraih apa-apa yang engkau sukai kecuali dengan pertolongan Allah, dan engkau tidak akan mampu menghindar dari apa-apa yang engkau benci kecuali dengan pertolongan Allah pula.”

Kedua tafsiran tersebut diriwayatkan oleh as-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur: 5/393-394
[dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar: 1/282]

Hubungan kalimat ini dengan tawakkal
Para ulama mengatakan: Sebagaimana kalimat Tauhid “Laa ilaaha illallaah” tidak akan ada faidahnya kecuali dengan mengikhlaskan segenap ibadah hanya bagi Allah semata, maka demikian pula kalimat al-Hawqolah “Laa hawla walaa quwwata illaa billaah” tidak akan berarti apa-apa kecuali dengan mengikhlaskan isti’anah (permohonan pertolongan) hanya kepada Allah semata. Sungguh Allah telah menghimpun “rahasia” kedua makna tersebut pada satu ayat dalam Surat al-Qur-aan yang paling agung, al-Fatihah:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Kalimat pertama (إيَّاكَ نَعْبُدُ) menyiratkan ikrar perlepasan diri hamba dari kesyirikan, dan kalimat kedua (وإياك نستعين) mengandung ikrar ketidakmampuan dan ketidakberdayaan hamba dalam mewujudkan segala hal yang diinginkannya kecuali dengan pertolongan Allah semata.

Tidak heran jika Ibnul Qayyim menukil ucapan gurunya (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
“Aku meneliti dan merenungkan (kandungan) do’a yang paling bermanfaat (bagi hamba), maka aku menemukannya pada do’a yang mengandung permintaan tolong hamba kepada Allah untuk meraih keridhaan-Nya, dan aku melihat (kandungan do’a tersebut) ada di al-Fatihah (إياك نعبد وإياك نستعين)…”
[Madaarijus Saalikiin: 1/78, dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar: 1/284]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukil sebuah atsar yang indah dan sarat makna, ketika menjelaskan hakikat ini:
مَنْ سَرَّهُ أنْ يَكُوْنَ أَقْوَى النَّاسِ فَلْيَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ، وَمَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُوْنَ أَغْنَى النَّاسِ فَلْيَكُنْ بِمَا فِيْ يَدِ اللهِ أَوْثَقُ مِنْهُ بِمَا فِيْ يَدِهِ
“Barangsiapa senang menjadi manusia yang paling kuat, maka hendaklah ia bertawakkal kepada Allah. Dan barangsiapa yang senang menjadi manusia yang paling kaya, maka hendaklah apa-apa yang ada di tangan Allah lebih pasti baginya dibandingkan dengan apa-apa yang telah ada dalam genggaman tangannya (sekalipun).”
[Majmu’ Fatawa: 13/321-322, dinukil dari Fiqhul Ad’iyah wal Adzkaar: 1/283]

Dan ketahuilah, keduanya merupakan hasil dari seseorang yang mengamalkan tawakkal dengan kalimat ini sebaik-baiknya.
Demikianlah rahasia di balik keagungan al-Hawqolah. Tentunya setelah memahami makna kalimat ini, kita bisa mengamalkannya dalam do’a dengan hati yang lebih khusyu’, penuh harapan dan rasa ketundukan pada Allah ‘azza wa jalla, terutama pada 2 kondisi yang telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
Petama; saat memohon pertolongan Allah.
dan kedua; ketika bertawakkal, menanti keputusan Allah setelah melakukan ikhtiar.
[Disusun oleh Redaksi al-Hujjah (semoga Allah mengampuni dan meninggikan derajatnya) Muroja’ah oleh: Ust. Fakhruddin Abdurrahman, Lc; Lebih lanjut silahkan baca: 
Sabda beliau
قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ
“Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya…”
Disyarah oleh Syaikh Majdi, bisa saja yang berkata adalah Allah; bisa juga salah satu dari malaa-ikat.
Sabda beliau
هُدِيتَ
engkau telah diberi petunjuk
Disyarah oleh Syaikh Majdi, menuju ke jalan yang haq, dan menuju kepada kebenaran, dengan engkau diberi taufik untuk mengutamakan dzikir kepada Allah dan engaku masih saja mendapat petunjuk dalam semua amal, perkataan, (perbuatan), dan keadaanmu.
Sabda beliau
وَكُفِيتَ
engkau telah dicukupkan
Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, telah dijauhkan keburukan darimu.
Sabda beliau
وَوُقِيتَ
engkau telah dijaga
Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, engkau telah dijaga dari segaa sesuatu yang tersembunyi darimu berupa sesuatu yang menyakitkan dan keburukan.
Sabda beliau
فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ
Hingga setan-setan menjauh darinya.
Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, syaithan menjauhkan diri darinya. Maka diaktakan kepada syaithan lain yang mencoba untuk menyakitinya atau mengganggunya:
Sabda beliau
كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ
“Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan.”
Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, tidak tersisa lagi jalan untukmu mendatangi orang yang telah diberi petunjuk untuk selalu berdzikir kepada Allah, dipalingkan dari syirikan, dan dijaga dari tipu-daya dan jebakanmu.
Sabda beliau
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذ بِكَ أَنْ أَضِلَّ
allahumma inniy a’uudzubika an adhilla…
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu jangan sampai aku sesat
Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, aku sesat dalam diriku sendiri. Kesesatan merupakan kebalikan dari petunjuk. Asalnya, “sesuatu sesat” adalah jika sesuatu tersebut hilan atau sesat dari jalan jika ia bingung.
Sabda beliau
أَوْ أُضَلَّ،
au u-dhill
atau aku disesatkan
Disyarah oleh Syaikh Majdi, dengan kata lain, orang lain menyesatkanku.
Sabda beliau:
أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ
aw azilla aw uzalla
atau berbuat kesalahan atau disalahi
Disyarah oleh Syaikh Majdi, kedua-duanya dari akar kata “الزلة”, dengan kata lain, kesalahan. Mkna yang pertama, “Aku melakukan kesalahan karena diriku sendiri atau aku menjerumuskan orang lain kedalam kesalahan itu. Sedangkan makna kedua, orang lain menjerumuskan diriku ke dalam kesalahan itu.
sabda beliau
أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ
aw azhlima aw uzhlam
atau menganiaya atau dianiya
Disyarah oleh Syaikh Majdi, kedua-duanya dari akar kata “الظلم” yang artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Makna pertama, aku menganiaya orang lain dan/atau diriku sendiri; sedangkan makna yang kedua adalah orang lain yang menganiaya diriku.
Sabda beliau
أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عليَّ
aw ajhala aw yujhala ‘alayya
atau aku berbuat bodoh atau dibodohi.

Disyarah oleh Syaikh Majdi, makna pertama: aku melakukan perbuatan orang-orang bodoh atau menyibukkan diri dalam hal-hal yang tidak bermanfaat untukku; sedangkan makna yang kedua; orang lain membodohi diriku dengan menerimaku sebagaimana penerimaan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh; seperti perdebata … dan sejenisnya.
Selanjutnya Syaikh Majdi berkata:
“Dalam hal ini, ajaran bagi umat beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam, penjelasan tentang bagaimana memperlindungkan mereka ketika mereka berangkat dari rumah-rumah mereka.”
Wallahu a’lam

[Sumber utama: Syarah Hishnul Muslim, karya Syaikh Majdi bin 'Abdil Wahhab; dan juga penambahan dari beberapa artikel pendukung yang telah disebutkan diatas, pada akhir penukilan]  - 
musafir untuk Umrah

No comments:

Post a Comment