Saturday, August 11, 2012

MENGAKU MUSLIM TAPI TAAT KAFIRIN 2


Di antara gejala setia terhadap Kafirin
Alhamdulillah, bertemu lagi dalam perbincangan “ Mengaku Muslim Tapi Taat Kepada Kafirin”, sebagaiman yang telah disebutkan sebelum ini, iaitu bentuk-bentuk kesetiaan atau loyality atau bahasa Islamnya wala' terhadap kafirin sungguh telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, pada perbincangan siri 1 telah dihuraikan 5 gejala dan pada siri 2 dan terakhir ini akan dihuraikan 5 lagi dari 10 gejala berkaitan sebagai berikut:-
1. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah menggunakan kalender kafirin, khususnya yang mencatat hari-hari suci dan hari-hari besar mereka, seperti kalender Masehi yang menyebutkan peringatan hari Kelahiran Al-Masih ‘alaihissalam yang hari raya itu adalah bid'ah yang mereka ada-adakan, dan bukanlah dari ajaran Al-Masih (Nabi ‘Isa) ‘alaihissalam. Karena itu menggunakan kalender ini berarti ikut berpartisipasi dalam menghidupkan syi’ar dan hari raya mereka. Hendaknya kita menghindari masalah ini, karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun berpaling dari kalender orang-orang kafir dan mereka membuat kalender sendiri yang dimulai dengan peristiwa hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu. Hal tersebut menunjukkan wajibnya menyelisihi kaum kuffar dalam masalah ini dan ciri-ciri khas mereka. Semoga Allah Ta’ala menolong kita.
2. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah ikut serta di hari-hari besar kafirin, membantu penyelenggaraan upacara mereka, mengucapi selamat pada hari itu, mendatangi undangan upacara mereka pada hari itu. Firman Allah:
"Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu." (QS. Al-Furqon [25] : 72); telah ditafsirkan bahwa dari sifat hamba-hamba adalah sesungguhnya mereka tidak mendatangi hari-hari besar orang kafir.
3. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah memuji, terpesona, kagum terhadap kafirin.
"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thoha [20] : 131)
Yang demikian itu bukan berarti orang Islam tidak boleh mengambil tahu tentang sebab-sebab kekuatan mereka, seperti: kemajuan teknologi, teknik ketenteraan dan keberhasilan ekonomi mereka, akan tetapi yang demikian itu adalah dituntut.
Allah Ta’ala berfirman:
"Bersiaplah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa yang kamu sanggupi."(QS. Al-Anfaal [8] : 7)
Pada dasarnya beberapa hal yang bermanfaat dan rahasia-rahasia alam semesta yang ada adalah untuk kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman:
"Katakanlah, 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan juga rezeki yang baik?'. Katakanlah, 'Semua itu disediakan bagi orang-orang yang beriman di dunia dan khusus untuk mereka saja di hari kiamat'." (QS. Al-A’raf [7] : 32)
Firman Allah Ta’ala:
"Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir." (QS. Al-Jatsiyah [45] : 13)
Allah Ta’ala berfirman:
"Dialah yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu." (QS. Al-Baqoroh [2] : 29)
Oleh karena itu kaum muslimin wajib sentiasa berlomba dalam usaha memperoleh beberapa teknologi dan potensi yang ada, jangan sampai dikuasai orang kafir, agar muslimin tidak bergantung kepada orang kafir dalam memperoleh teknologi tersebut. Bahkan dianjurkan agar Muslimin memiliki industri-industri dan menciptakan kelengkapan-kelengkapan yang diperlukan.
4. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah memberi nama dengan nama-nama orang kafir.
Ramai di antara kaum muslimin yang memberi nama kepada anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan dengan nama-nama asing dan meninggalkan nama bapaknya, ibunya, datuknya, neneknya dan nama-nama yang dikenal di masyarakatnya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya sebaik-baiknya nama adalah Abdullah, Abdur Rahman, dan Al-Harits". (HR Ahmad, shahih menurut Syaikh Syu’aib Al-Anauth)
Perubahan nama-nama tersebut adalah akibat hilangnya kesatuan dengan generasi sebelumnya, juga menghapus identiti nama keluarga tertentu yang biasa dikenal dengan nama-nama khas mereka.
5. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah berdoa memintakan ampun dan rahmat bagi kafirin. Allah telah mengharamkan hal yang demikian ini dalam firman-Nya:
"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam." (QS. At-Taubah [9] : 113)
Karena dalam permasalahan ini mengandung adanya suatu rasa kecintaan terhadap mereka dan membenarkan sesuatu yang ada pada mereka.
Demikianlah penjelasan Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, ulama terkemuka sekarang ini, abad ini, dalam bab Madhaahiru Muwaalatil Kuffaar —gejala-gejala setia kepada orang-orang kafir— dalam buku:
Al-Irsyadu isla shahiihil I’tiqaad warraddi ‘alaa ahlis syirki wal ilhaad.
Perlu sangat diperhatikan, terutama dua gejala ini, yaitu gejala keempat dan kelima:
1. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah membantu kafirin untuk mengalahkan Muslimin, memuji-muji dan membela mereka. Ini merupakan sebahagian dari rusaknya aqidah, dan penyebab kemurtadan.
2. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka, memberikan kekuasaan kepada mereka agar memegang jawatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.
Dua gejala itu disamping mengancam hancur leburnya keimanan pelakunya, masih pula sangat merugikan kaum muslimin pada umumnya. Maka wajib dihindari sama sekali. Seandainya perkara ini  telah melanda dalam masayarakat, maka mari kita benteras sekuat-kuatnya secara tolong menolong dalam kebaikan untuk membenteras kemunkaran. Apalagi masalah ini sangat membahayakan Ummat Islam secara keseluruhan.
Semoga Allah subahanahu wa ta’ala berkenan memberi hidayah kepada kita semua sehingga kita mampu memahamainya dengan baik dan menghindarinya sejauh-jauhnya, karena gejala-gejala itu sangat membahayakan keimanan kita, dimana gejala in telah berlaku di mana-mana. Hanya Allah lah tempat kita berlindung dari segala bahaya terutama bahaya mencintai kekafiran yang seolah menggoda manusia setiap saat dan bahkan dihiasi dengan kata-kata indah nan menawan sehingga banyak menjerumuskan orang. Na’udzubillahi min dzalik. Kami berlindung dari hal yang demikian.

Friday, August 10, 2012

MENGAKU MUSLIM TAPI TAAT KEPAD KAFIRIN


Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Dalam hal menjalankan perintah dan menjauhi larangan, akhir-akhir ini Ummat Islam diliputi keadaan yang menuntut kehati-hatian yang sangat. Kalau tidak hati-hati, maka akan terjerumus sangat dalam, karena kemungkinan yang diucapkan oleh lisan, diperbuat oleh anggota badan, dan diyakini oleh hati, kemungkinan justru hal-hal yang sangat dilarang Islam. Dalam hal ini yang akan kita bicarakan adalah bermaharajalelanya gejala setia kepada orang kafir, yang dalam Islam sangat dilarang, namun di dalam masyarakat ketika ini tampak semakin berkembang.
Untuk mengetahui bagaimana gejala mencintai atau setia atau loyal terhadap orang kafir, mari kita semak huraian ulama terkemuka masa ini iaitu Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, dalam bab  Madhaahiru Muwaalatil Kuffaar – gejala-gejala setia kepada orang-orang kafir seperti berikut ini.
Di antara gejala setia terhadap Kafirin
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, bentuk-bentuk kesetiaan atau loyalitas atau bahasa Islamnya wala' terhadap kafirin sungguh telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya akan dihuraikan 10 gejala sebagai berikut:
1.  Menyerupai kafirin dalam berpakaian, ucapan, sikap dan lainnya. Itu menunjukkan kecintaan pada mereka, karena Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka." (HR Abu Daud, dan At-Thabrani dalam Al-Awsath, dari Hudzaifah, berderajat hasan)
Oleh karena itu diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam hal yang menjadi ciri khusus mereka, yang berupa tradisi atau adat kebiasaan, ibadah, symbol dan akhlak mereka seperti mencukur janggut, memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka kecuali ada keperluan yang mendesak, demikian juga dengan mode berpakaian mereka, makan, minum dan sebagainya.
2. Tinggal di negeri kafir dan tidak pindah ke negeri Muslimin untuk menyelamatkan ad-dien. Dengan tinggalnya di negeri kafir menunjukkan kepatuhannya terhadap orang kafir. Allah Ta'ala mengharamkan bermukimnya orang Muslim di antara orang-orang kafir apabila ia mampu untuk berhijrah.
"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?' Mereka menjawab, 'Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).' Para malaikat berkata, 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dari bumi itu?' Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisaa' [4] : 97)
"Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)." (QS. An-Nisaa' [4] : 9Cool
"Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun." (QS. An-Nisaa' [4] : 99)
Allah Ta'ala tidak menerima alasan setiap Muslim yang bermukim di negara orang kafir kecuali mereka yang lemah, yang tidak mampu untuk berhijrah, juga orang-orang yang bermukimnya ada kemaslahatan ad-dien, misalnya berda'wah dan menyebarkan Islam di negri mereka.
3. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah melancung ke negeri kafir dengan tujuan suks-suka dan rekreasi. Hal yang demikian haram hukumnya kecuali untuk hal yang sangat diperlukan, seperti berobat, berdagang, menuntut ilmu tentang sesuatu yang bermanfaat yang tidak dapat tercapai kecuali dengan mengadakan perjalanan ke negeri mereka, maka hal itu diperbolehkan sesuai dengan keperluanan. Jika keperluannya telah terpenuhi, ia wajib kembali ke negeri kaum muslimin.
Dan disyaratkan pula untuk diperbolehkannya mengadakan perjalanan semacam ini, ia mampu menampakkan agamanya, bangga dengan keislamannya, menjauhi tempat-tempat kejahatan, waspada terhadap penyelinapan musuh-musuhnya dan tipu daya mereka. Dan diperbolehkan juga untuk bepergian atau wajib pergi ke negeri mereka apabila dimaksudkan untuk berdakwah di jalan Allah.
4. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah membantu kafirin untuk mengalahkan Muslimin, memuji-muji dan membela mereka. Ini merupakan bagian dari rusaknya aqidah, dan penyebab kemurtadan.
5. Dan termasuk gejala setia kepada orang kafir adalah meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka, memberikan kekuasaan kepada mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.
Allah Ta’ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (QS. Ali Imran [3] : 118)
"Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, 'Kami beriman'; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka), 'Matilah kamu karena kemarahanmu itu'. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati." (QS. Ali Imran [3] : 119)
"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (QS. Ali Imran [3] : 120)
Ayat-ayat yang mulia ini mengungkapkan hakekat kaum kafir dan apa yang mereka sembunyikan dari kaum muslimin yang berupa kebencian dan siasah untuk melawan kaum muslimin seperti tipu daya dan pengkhianatan. Dan ayat ini juga mengungkapkan tentang kegembiraan mereka bila kaum muslimin mendapat musibah. Dengan berbagai cara mengganggu ummat Islam. Bahkan kaum kuffar tersebut memanfaatkan kepercayaan ummat Islam kepada mereka dengan menyusun rencangan untuk meminggirkan dan membahayakan ummat Islam.
Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, dia berkata kepada ‘Umar radhiyallahu anhu, "Saya memiliki pembantu yang beragama Nashrani". ‘Umar berkata, "Mengapa kamu berbuat demikian? Celakalah engkau. Tidakkah engkau mendengar Allah Ta’ala berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain…" (QS. Al-Ma’idah [5] : 51)
Kenapa tidak engkau ambil seorang muslim sebagai pembantu mu?' Abu Musa menjawab, 'Wahai amirul mukminin, saya perlukan tulisannya dan urusan agama terserah dia'. Umar berkata:
'Saya tidak akan memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, saya tidak akan mengangkat derajat mereka karena Allah telah merendahkan mereka dan saya tidak akan mendekati mereka karena Allah telah menjauhkan mereka'."
Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan:
Bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam keluar menuju Badar. Tiba-tiba seseorang dari kaum musyrikin mengintip nya dan berhasil menyusul beliau ketika sampai di Harrat alwabarah, lalu dia berkata, "Sesungguhnya aku ingin mengikuti kamu dan aku rela berkorban untuk kamu". Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Berimankah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya?" dia berkata, "Tidak". Beliau bersabda:
"Kembalilah, karena saya tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik". (HR Ahmad dan Muslim)
Dari nash-nash tersebut di atas, jelas bagi kita tentang haramnya mengangkat kaum kafir untuk menduduki jabatan pekerjaan kaum muslimin yang mereka nanti akan mengokohkan kedudukannya dengan kuasa yang ada padanya untuk mengetahui keadaan kaum muslimin dan membuka rahasia-rahasia mereka atau menipu dan menjerumuskan ummat Islam ke dalam kerugian dan kebinasaan. Namun sayang hal ini telah banyak terjadi di negeri kaum muslimin, negeri Haramain Syarifain (Saudi Arabia) yang menjadikan kaum kuffar sebagai pekerja-pekerja, pemandu-pemandu, pelayan-pelayan, guru-guru di rumah-rumah yang bergaul bersama mereka keluarga muslim atau bercampurbaur dengan kaum muslimin di negerinya.
Bersambung dalam siri kedua…

Thursday, August 9, 2012

TETAMU TERAKHIR


 Saudaraku, tahukah siapa tetamu terakhir yang akan mengunjungimu? Tahukah anda apa tujuan ia menziarahi dan menemuimu? Apakah hajatnya darimu?
Ketahuilah! Ia tidak datang kerana dahagakan hartamu, atau kerana ingin menikmati hidangan lazat bersamamu, atau meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, atau memintamu memberikan sokongan kepada seseorang atau untuk menyelesaikan urusan yang tidak mampu ia selesaikan!!
Tetamu ini datang untuk satu urusan penting yang telah ditetapkan. Anda dan keluarga anda malah seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menggagalkannya dalam misinya tersebut!
Walaupun anda tinggal di istana-istana yang tinggi, berlindung di benteng-benteng yang kukuh dan di menara-menara yang kuat, dikawal dengan ketat, anda tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menunaikan urusannya denganmu!!
Untuk menemuimu, ia tidak perlu pintu masuk, atau meminta izin, dan membuat temujanji terlebih dahulu sebelum datang. Ia akan datang bila-bila dan dalam keadaan apapun; ketika kamu sedang sibuk ataupun lapang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang melarat, ketika kamu sedang bemusafir atau pun tinggal di tempatmu.!!
Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang lemah. Ia tidak akan terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan sahabat-sahabat yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk menilai semula perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali urusanmu!
Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak bererti apa-apa baginya dan tidak membuatnya berpaling  dari tujuan asal nya!
Sungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu semuanya bukan separuh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!!!
Allah s.w.t berfirman, artinya:
"Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang ditugaskan untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS. As-Sajadah: 11)

Dan firman-Nya, artinya:
"Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya." (QS. Al-An'am: 61)


Kereta Usia


Tahukah kamu bahawa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahawa kita semua menjadi musafir di tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti?
Tahukah kamu bahwa pusingan kehidupan hampir akan terhenti dan 'kereta usia' sudah mendekati destinasi terakhirnya? Sebahagian orang soleh mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, "Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?"


Berhati-hatilah!
Semoga anda tidak termasuk orang yang Allah s.w.t. sebutkan, mafhumnya:
"Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?" (QS. Muhammad: 27)
Atau firman-Nya, mafhumnya:
"(Iaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun." (Malaikat menjawab), "Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. "Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu." (QS. An-Nahl: 28-29)
Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitimu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?
Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan soalat dua raka'at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa walaupun sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?
‘Kontrak' amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!
Allah s.w.t. berfirman,  yang bermaksud :
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia)." Agar aku berbuat amal yang soleh terhadap yang telah aku tinggalkan." Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun: 99-100)
 
Persiapkanlah Dirimu!

Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu untuk menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Allah Al-Jabbar?
Dari ‘Adi bin Hatim r.a. dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda,
"Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penterjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih malang darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Kerana itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik." (Muttafaqun 'alaih)
 
Hitungkanlah Dirimu!

Saudaraku, bermuhasabahlah ke atas dirimu di saat masa lapang mu, fikirkanlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa lapangmu untuk masa sulit dan keperluanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan dicatit di lembaran amalmu.
Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cubaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan bertolak ansur denganmu! 

Wednesday, August 8, 2012

LAILATUL QADAR, BILA?


    Mengikut kitab Duratun Nasihin oleh Usman Alkhaibawi, Lailatul Qadar dinamakan dengan Qadar yang ertinya ketentuan, kerana pada malam itu ditentukan semua urusan, hukum, ketentuan rezeki dan waktu kematian serta apa-apa juga yang terjadi pada tahun itu sampai tahun yang akan datang.
Lailatul Qadar ini adalah malam yang lebih baik daripada 1000 bulan yang Allah anugerahkan hanya kepada umat Nabi Muhamad SAW. Lailatul Qadar ini adalah hadiah yang tidak terhingga nilainya yang Allah hadiahkan secara ghaib kepada kita.
Oleh kerana Lailatul Qadar ini hadiah yang ghaib maka majoriti daripada umat Islam tidak lansung ambil kisah dan mereka merasakan persiapan Aidil Fitri lebih penting daripada mencari Lailatul Qadar. Malanglah bagi kita yang tidak mengambil kesempatan mencari hadiah daripada Allah, hadiah yang bukan sahaja bermanafaat di dunia malah yang lebih penting di akhirat.
Masa berlalu pantas meninggalkan hari-hari yang indah di bulan Ramadhan. Terasa sayu untuk meninggalkan Ramadhan kerana belum tentu bertemu lagi Ramadhan tahun di tahun hadpan. Ada tugasan terakhir yang paling penting dalam sisa malam-malam Ramadhan iaitu mencari Malam Lailatul Qadar malam yang LEBIH BAIK dari 1000 bulan. Banyak ulasan yang kita baca dan dengar tentang kehebatan Lailatul Qadar. Malam yang penuh keberkatan dan kelebihan tertentu  yang boleh merubah kehidupan kita 360 darjah pusingan.
Rasulullah s.a.w. sendiri menjadi contoh yang baik yang menghayati malam Lailatul Qadar terutama 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhandengan beriktikaf di Masjid mengerjakan pelbagai amal ibadah untuk menyambut malam Lailatul Qadar yang mulia.
Ini diterangkan di dalam satu hadis diriwayatkan daripada Aishah r.a. Katanya yang maksudnya: “Biasanya Rasulullah s.a.w. berusaha dengan bersungguh-sungguh memperbanyakan amal ibadah pada 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan berbanding dengan masa yang lain.”
Hadis yang diriwayatkan daripada Aishah r.a. yang maksudnya: “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. bagimana kiranya saya mengetahui malam Lailatul Qadar dengan tepat. Apa yang saya akan doakan pada saat itu. Baginda menjawab berdoalah dengan doa yang berikut” yang maksudnya: “Ya Allah ya Tuhanku sesungguhnya engkau sentiasa memaafkan salah silap hamba lagi suka memaafkan oleh itu maafkanlah salah silapku.” 
Abu Zar r.a. berkata, “Saya telah bertanya kepada nabi s.a.w. adakah Lailatul Qadar khusus pada zaman baginda sahaja atau akan berterusan selepas zaman itu juta?” Baginda menjawab, “Lailatul Qadar akan berterusan sehingga hari kiamat”. Saya bertanya lagi, “Pada bahagian manakah dari Ramadhan malam itu berlaku?” Baginda bersabda, “Carilah malam itu pada 10 akhir awal dan 10 akhir”. Kemudian baginda telah sibuk dengan perkara lain. Apabila mendapat peluang saya bertaya lagi, “Tuan, tolong beritahu saya , dalam sepuloh malam itu pada bahagian manakah malam itu didapati?”, Baginda menjadi begitu marah, tidak pernah Baginda begitu marahterhadap saya sebelum dan selepas itu. Kemudian Baginda bersabda, “Kalau itulah tujuan Allah, mengapa tidak terus diberitahu sahaja?,Carilah malam itu pada 7 malam terakhir, cukuplah! Selepas ini jangan Tanya apa-apa lagi pada saya”.
Baginda memberitahu kepada seorang sahabat yang lain secara tepat bahawa malam itu didapati pada malam ke 23. Ibnu ‘Abas r.anhuma berkata, “Pada satu malam aku bermimpi, seorang berkata kepada ku, “Bangunlah! Ini Lailatul Qadar”, saya pun bangun dengan segera dan pergi melihat Nabi s.a.w. Saya dapati baginda sedang besolat. Malam itu adalah malam ke 23”. Dapat diketahui juga pasa sesetengah riwayat lain bahawa lailatul qadar berlaku pada malam ke 24.
Ibnu Kaab r.a. memberitahu bahawa lailatul Qadar berlaku pada malam ke 27. Banyak lagi pendapat para sahabat dan tabi’in bahawa lailatul Qadar berlaku pada malam ke 27 ramadhan.
Bukan mudah orang biasa seperti aku untuk mencari Lailatul Qadar yang tepat kerana itu adalah Rahsia ALLAH SWT supaya umat manusia berusaha bersungguh mencari Lailatul Qadar. Hanya ada satu Tips Pasti Berjumpa Malam Lailatul Qadar iaitu dengan beramal bersungguh-sungguh pada setiap malam 10 yang akhir di bulan Ramadhan dengan memperbanyakkan Qiamulai, Berzikir, Membaca Al Quran dan Berdoa memohon keampunan dan keredhaan ALLAH SWT.
Insyallah dengan kita beramal setiap malam 10 akhir Ramadhan pasti salah satu malam tersebut adalah Malam Lailatul Qadar. Jangan lupa doa kita untuk Umat dan Makhluk seluruh alam insyallah Malaikat akan mendoakan kebaikan untuk kita kembali.

SYIRIK DALAM KOKKA


Syirik di sisi syariat Islam bermaksud meletakkan sesuatu yang merupakan hak-hak Allah yang khas bagi-Nya atau sebahagian daripada hak-hak tersebut pada yang selain dari Allah. Pendekatan menyekutukan Allah dengan yang lain pada hak-hak yang khas bagi Allah.
Antara hak Allah ialah hak mencipta, mentadbir, dan memberi rezeki. Oleh yang demikian orang yang berkata, “Rezeki saya di tangan fulan,” telah melakukan syirik kerana dia telah meletakkan hak Allah iaitu memberi rezeki pada selain dari Allah.
Firman Allah SWT bermaksud:
”(Katakanlah (wahai Muhammad) siapakah yang mengurniakan rezeki kepadamu dari langit dan bumi dan siapakah yang berkuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan atau siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup atau siapakah yang mengatur segala urusan? Lalu mereka menjawab ‘Allah’, maka katakanlah (kepada mereka) mengapa kamu tidak bertaqwa.)” [Yunus: 31]
Antara hak Allah yang lain ialah sifat Allah, perbuatan-Nya serta nama-Nya. Semuanya adalah khusus bagi Allah dan tidak boleh dibandingkan dengan makhluk. Maka kita tidak boleh mengatakan Allah mempunyai tangan seperti tangan kita, Allah melihat sebagaimana penglihatan makhluk ataupun kita menamakan anak dengan nama Allah. Semua yang di atas adalah kufur dan syirik yang mesti di jauhi.
Firman Allah yang bermaksud:
”(Tiada sesuatu yang menyerupai dengan-Nya (Allah) dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.) [Syura: 11]
Syirik yang berlaku dalam penggunaan Kokka dan seumpamanya seperti tangkal, pendinding, tulang duyong adalah syirik dalam ibadat. Ibadat adalah hak Allah yang khas baginya.
Mungkin orang yang menggunakan Kokka akan berkata, “Saya tak sembah selain daripada Allah! Saya sembahyang lima waktu, berpuasa, berzakat dan menunaikan haji…semuanya kerana Allah. Bagaimana dengan hanya memakai kayu Kokka kamu kata saya telah melakukan syirik? Ini tuduhan yang berat!”
Seorang muslim perlu memahami dan mengetahui bahawa skop ibadat tidak hanya meliputi rukun Islam yang lima sahaja. Bahkan amalan ibadat merangkumi amalan lisan seperti syahadah dan zikir, amalan zahir seperti rukun Islam yang lain serta lain-lain amalan anggota seperti tolong menolong dan berpakaian, dan yang paling hebat dan agung ialah amalan hati. Contoh amalan hati ialah ikhlas, khusyu’, takut, berharap dan tawakal. Semua ini adalah ibadat yang menjadi hak Allah secara mutlak dan kita diharamkan menyekutukan Allah padanya.

Di manakah syiriknya?
Secara amnya orang yang memakai tasbih Kokka, cincin Kokka, atau apa-apa sahaja yang seumpamanya (dengan anggapan bahawa perkara-perkara tersebut mempunyai keupayaan tertentu: Nota penyunting) telah melakukan syirik dalam tawakal. Tawakal bermaksud pergantungan kepada Allah dengan melakukan sebab yang menyampaikan kepada tujuan. Allahlah satu-satunya yang mampu memberi manfaat dan menolak bencana, bukannya kayu atau tangkal atau sebarang jampi serapah yang menyalahi syara’ dan sunnah Rasulullah SAW.
Dalam hadith yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Tirmizi Rasullullah SAW bersabda, maksudnya: (Barangsiapa menggantungkan sesuatu [dengan tujuan berlindung daripada bencana atau memohon manfaat] maka pergantungannya adalah pada benda itu). [lihat Sunan Tarmizi (no 2072)]
Dalam hadith yang lain baginda telah bersabda, maksudnya: (Barangsiapa yang mengenakan tangkal, sesungguhnya ia telah melakukan syirik.). [lihat Musnad Imam Ahmad (4/154)]
Syirik yang dilakukan oleh pengguna Kokka, tangkal dan seumpamanya ada beberapa peringkat. Ia bergantung pada sejauh mana pergantungan pemakai terhadap benda-benda ini.

Tuesday, August 7, 2012

KEAJAIBAN KAYU KOKKA


Apakah dia kayu Kokka yang telah mencuri perhatian ramai di kala ini?
Kononnya kayu Kokka merupakan kayu yang paling tinggi mutunya antara semua kayu di atas muka bumi dan hanya terdapat di negara tertentu seperti Turki dan Mesir. Ianya telah digunakan sejak zaman nabi-nabi lagi. Bahan asas bahtera nabi Nuh adalah kayu Kokka, tongkat nabi Musa dan nabi Syuaib juga di ambil daripada kayu Kokka!!
Kini Kokka menjadi buruan orang ramai di Malaysia. Ia boleh di dapati di kedai-kedai yang menjual buku agama, minyak atar dan kaset agama dalam pelbagai bentuk seperti loket, mata cincin, cincin belah rotan, untaian tasbih ataupun butiran tasbih bahkan krim dan minyak.
Antara khasiat dan keajaiban yang dihebah-hebahkan ialah ia boleh menjadi penawar, penyembuh dan pelindung. Lebih melampau dari itu terdapat kisah-kisah pelik dan ajaib yang terang-terang merupakan cerita yang direka-reka bagi melariskan barangan ataupun mainan serta tipu daya syaitan yang berbentuk khayalan. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk menyesatkan orang beriman serta melalaikan mereka dari bergantung serta bermohon kepada Allah.
Dalil bahawa ianya tipu daya syaitan ialah satu athar (riwayat) daripada Abdullah bin Mas’ud RA bahawasanya dia memotong pintalan tali yang telah dijampi yang dipakai oleh isterinya. Lalu isterinya berkata, “Mataku sakit, sekiranya aku mengenakan jampi aku merasa lega dan jika aku tinggalkannya sakitku menyeksa.” Ibnu Mas’ud menjawab, “Yang sebenarnya ini adalah kerja syaitan. Sekiranya engkau mengingkarinya ia menyakitkanmu dan jika engkau taatinya ia membiarkanmu”. [lihat Sunan Ibn Majah (no.3530].
Persoalan yang kita bincangkan ini melibatkan kepercayaan dalam soal agama. Perkara agama mestilah berpaksikan dalil yang sahih untuk diamalkan. Dalil dalam perkara agama mestilah dari Quran, hadith yang sahih dan hasan, serta ijmak. Jika tidak amalan hanya akan menjadi sia-sia dan mungkin mengundang dosa sahaja.
Justeru, kita wajib percaya bahawa nabi Nuh alaihissalam membina bahtera kerana ia disebut oleh al-Quran dan hadith. Kedua-duanya adalah asas yang sahih. Namun tidak pula disebut di dalam kedua-duanya bahawa bahtera itu daripada Kokka!! Jadi bagaimanakah dapat kita mengetahui bahawa ianya daripada Kokka?
Sumber cerita Israiliyyat (jikalau ada) ia hanyalah khabar dan bukanlah hujah yang membolehkan kita memakai Kokka untuk berlindung daripada bala atau musuh serta makhluk halus sebagaimana terdapat dalam kisah ajaib kayu Kokka.
Seterusnya, kalaulah benar kayu Kokka adalah bahan bahtera nabi Nuh, siapakah yang pernah melihat bahtera tersebut ataupun menjumpainya? Ataupun sekurang-kurangnya serpihan bahtera baginda untuk kita katakan sebagai sumber arkeologi.
Menurut sesetengah orang bahwa bahtera nabi Nuh daripada kayu pine. Ini adalah nas Taurat. [Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah (1/124), lihat juga Torakh: Genesis chapter 6:14, kayu itu disebut sebagai gopher wood. Penafsir Injil menyatakannya sebagai pokok cypruss. Lihat (www.keyway.com)]
Begitulah halnya dengan tongkat nabi Musa dan nabi Syuaib alaihimassalam. Bahkan Imam Abdur Razzaq telah menukilkan di dalam tafsirnya bahawa al-Kalby (seorang perawi yang dhaif) telah berkata, “Tongkat nabi Musa diperbuat daripada kayu Ausaj” [sejenis pokok berduri dari spesis terung. Buahnya bulat dan hitam menyerupai batu aqiq. Lihat: Mu'jam al-Wasit (m.s 600)] . Begitu juga disebut oleh Imam at-Thabari dari Imam Qatadah [Lihat Tafsir as-San'ani (3/91) dan Tafsir at- Thabari (20/17)]
Jelaslah bahawa Israiliyyat (riwayat yang dibawa oleh ahli kitab) sendiri tidak menyebut perihal Kokka. Jadi dari mana datangnya cerita kokka?!
Kenapakah nabi Sulaiman alaihissalam tidak disebut bersama? Adakah kerana tongkat baginda telah dimakan anai-anai? (serangga perosak mungkin tidak dapat mendekati Kokka) ataupun baginda tidak tahu tentang kayu Kokka? Mustahil!!
Saya tertarik dengan hujah ringkas seorang jemaah Haji yang pintar dalam mengulas pamphlet khasiat kokka yang banyak tersebar yang menyebut (dengan izin Allah seperti yang berlaku di negeri Syam para soldadu telah memakainya dan tubuh mereka menjadi kebal…) Ujarnya: “Kalaulah Kokka ni macam yang disebut-sebut kenapa Nabi Muhammad SAW tak pakai kayu kokka semasa berperang kat Uhud. Kan senang musuh terus cabut!!”
Tiada siapa yang pernah menjumpai bahtera dan tongkat tersebut namun ramai yang tahu ianya diperbuat daripada kayu Kokka. Inilah sebenarnya keajaiban Kokka.
 Posted by Abu Anas Madani on 19 Disember 2009