Wednesday, October 2, 2013

Renungan kehidupan



[renungan ayat, renungan kehidupan]
Allaah berfirman:
أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
Tidaklah dia MENGETAHUI bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
(al ‘Alaq: 14)

Apakah seseorang MENGETAHUI bahwa amalannya dilihat Allaah? Bahkan apakah seseorang mengenal siapa itu Allaah?

Allaah adalah Tuhan yang menciptakan kita, dan orang-orang sebelum kita, dan yang akan datang; dan Dia pula yang telah menciptakan alam semesta, Dialah Yang Mengatur dan Memeliharanya. Dia tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia, tapi dengan tujuan yang jelas; agar jin dan manusia menyembahNya (dan tidak menyekutukanNya sedikitpun juga). Kelak dunia ini akan musnah, dan kita akan dibangkitkanNya, kemudian kita akan dimintai pertanggung jawaban atas segala perbuatan kita; barangsiapa yang menghadap kepadaNya dengan iman dan amal shalih, maka dia beruntung. barangsiapa yang menghadap kepadaNya dengan kekufuran kepadaNya, maka dia celaka.

Hendaknya kita mengetahui, Dzat Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, yang kelak di aakhirat memiliki balasan yang amat pedih lagi keras, Maha Melihat amalan-amalan kita. Maka hendaknya kita bertaqwa kepadaNya, dengan tidak berlaku lancang dihadapanNya.
Hendaknya kita hidup diatas aturanNya, karena Dialah yang menciptakan kita, Dialah yang memiliki bumi ini; maka sebagaimana seorang tuan berhak mengatur-ngatur budaknya, sebagaimana tuan rumah mengatur-ngatur orang yang berada dirumahnya; maka demikian pula Tuhan semesta alam, berhak mengatur-ngatur hambaNya, demikian pula Tuhan pemilik langit dan bumi, berhak mengatur-ngatur penghuni bumi yang beratapkan langitNya.
Maka tidak ada alasan bagi ktia untuk mengatakan: “biarkan saja saya berbuat sesuka hati saya; hidup-hidup saya, badan-badan saya; suka-suka saya dong mau apain badan dan hidup saya!”

Karena sudah disebutkan diawal tadi, bahwa Allaah tidaklah menciptakan langit, bumi, dan seluruh makhluqNya dengan main-main atau sia-sia; tanpa diperintah, tanpa dilarang, tanpa dimintai pertanggung jawaban!

Dan Allaah-lah yang menciptakan dirimu, Allaah-lah yang sebenar-benar pemilik dirimu; Allaah-lah yang menghidupkanmu, Allaah-lah yang memberimu rizki, Allaah-lah yang memeliharamu. Maka Dia berhak memerintahkan dan melarangmu, Dia-lah pula yang mematikanmu, dan Dia-lah pula yang kelak akan memintakan pertanggung jawaban atas seluruh amalanmu kelak dihari kiamat; bahkan Dialah yang sekarang ini Maha Melihat segala perbuatanmu; meskipun engkau sendirian di kamarmu, meskipun engkau bersembunyi dibalik batu yang hitam, ditengah malam yang kelam, Dia Melihat perbuatanmu, dan kelak Dia akan memintakan pertanggung jawabanmu atas perbuatanmu tersebut di hari kiamat.
Maka hendaknya kita menyembahNya (dan tidak menyekutukanNya sedikitpun dengan sesuatu apapun; sebagaimana Dia tidak memiliki sekutu dalam penciptaan, pengaturan, serta pemeliharaan alam semesta). Dan hendaknya kita hidup dengan mengikuti aturanNya, maka jadilah kita sebaik-baik hambaNya yang berjalan diatas bumiNya.

Jangan sampai kita seperti orang yang TIDAK TAHU DIRI, yang berbuat sesuka hatinya; padahal dia asalnya dari mani yang hina. padahal dia tidak menciptakan dirinya sendiri. padahal dia hanya ‘menumpang’ di bumiNya. padahal dia diberi rizki oleh Allaah, meskipun dia tidak meminta kepadaNya; rizki oksigen, rizki air, rizki segala macam makanan; rizki organ-organ tubuhnya tidak ada yang cacat, dan segala macam rezki yang tidak dapat terhitung. Tapi dia malah tidak mau mencari tahu siapa yang menciptakannya, siapa yang memeliharanya, tidak mau mencari tahu bagaimana cara mensyukuri segala nikmat-nikmat yang ia rasakan… sehingga dia tidak berterima kasih (tidak bersyukur) kepada Dzat yang Maha Pemberi rizki, dengan hidup seenak hatinya…

Ia jadikan dirinya/hawa nafsunya sebagai sesembahannya (yang ia taati; yang menjadi barometer benci dan cinta-nya), ia jadikan hawa nafsunya sebagai aturan hidupnya; sehingga ia hidup tanpa aturan, hidup tanpa tujuan yang jelas; ia mengira ia hidup diatas kemerdekaan dan kebebasan, tapi pada hakekatnya ia terbelenggu diatas perbudakan hawa nafsu yang hina! ia menyangka kematian mengakhiri segalanya… ia tidak tahu, dan ia tidak mau tahu, atau ia lupa; bahwa DI SAAT KEMATIANNYA ada SAKRATUL MAUT yang pedih menanti; dan setelah kematiannya, ada adzab kubur yang menanti, ada hari perhitungan yang berat, ada neraka yang akan menyiksa hamba-hamba Allaah yang kafir kepadaNya. Na’uudzubillaah!
Kalau dia TAHU bahwa Allaah melihat segala perbuatannya, dan dia TAHU bahwa kelak Allaah akan membalas segala perbuatannya; maka hendaknya dia bertaubat dari perbuatan buruknya, beriman kepadaNya, jujur dengan keimanan tersebut dan bersegera beramal shalih. Sungguh dia akan mendapati Allaah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dia akan dapati Allaah Maha Mensyukuri hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shaalih. Dia akan dapati Allaah Yang Tidak Menyalahi Janji-Nya, Yang Maha Benar; yang tidak ada perkataan yang lebih benar dariNya, tidak ada janji yang lebih ditepati dariNya, dan tidak ada yang lebih baik balasannya selain dariNya, sebaik-baik pemberi balasan.

Ketahuilah barangsiapa yang beriman dan beramal shaalih, Maka Allaah akan membalasnya dunia dan aakhirat, di dunia dia hidup diatas kebahagiaan yang hakiki, dan ia jika ia mati diatas keimanan kepadaNya, maka ia akan mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan yang abadi! Dimudahkan baginya sakratul mawt, disediakan baginya nikmat kubur sebaik-baik tempat penantian sebelum datangnya hari berbangkit, diberikan rasa aman baginya dihari berbangkit dan hari perhitungan, disaat kebanyakan manusia diliputi rasa takut, kemudian dimasukannya kedalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi; yang nikmatnya tidak dapat terbayang oleh pikiran, tidak pernah terlintas dalam hati, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah pula terasa oleh panca inderanya! Sungguh bahagia orang-orang yang hidup diatas keimanan dan amalan shalih, dan wafat diatasnya!

Setelah kita mengetahui bahwa Dialah sebaik-baik pemberi balasan, maka janganlah sampai kita mencari balasan dari selainNya ketika mengamalkan amalan aakhirat. Sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi balasan yang lebih baik, dibandingNya. Dan jika kita mencari balasan dari selainNya dari amalan aakhirat, maka ketahuilah Dia tidak membutuhkan sekutu. Dia tidak menerima amalan yang secara lahir tampak ‘beribadah kepadaNya’ tapi secara bathin mencari balasan dari selainNya. Sungguh amalan tersebut adalah kedustaan yang nyata, seburuk-buruk kedustaan, seburuk-buruk tipuan. Selain tidak diterimaNya, pelakunya pun mendapat DOSA BESAR disisiNya, kelak di aakhirat, Allaah akan menyuruhnya untuk meminta balasan kepada orang-orang yang ia cari-cari balasan tersebut! Sedangkan di aakhirat kelak, tidak ada yang mampu memberi balasan kecuali Dia. Maka dimasukkanNyalah ke neraka jahannam para pendusta dan para penipu itu! Na’uudzubillah.

Demikian pula, setelah kita mengetahui bahwa sebaik-baik balasan, adalah balasan aakhirat. Maka hendaknya kita mengharapkan BALASAN AAKHIRAT dari amalan aakhirat kita. Jangan jadikan BALASAN DUNIA sebagai TUJUAN UTAMA kita beramal (amalan aaakhirat!). Sungguh, alangkah meruginya, seseorang yang HANYA MENGINGINKAN BALASAN DUNIA dari amalan akhiratnya! ia bersedekah, HANYA agar Allaah menambah rezkinya (tidak menginginkan balasan di aakhirat)! Maka Allaah memberikan balasan duniawi YANG SUDAH DITAQDIRKAN untuknya, dan baginya tidak ada balasan di aakhirat! Na’uudzubillaah.

Kalau dia telah mengetahui apa-apa yang dipaparkan diatas, tapi perbuatannya seperti orang yang tidak mengetahui… Maka sungguh apa yang ia ketahui itu hanyalah sekedar WAWASAN, bukanlah pengetahuan yang bermanfa’at… Karena orang yang mengetahui, sudah semestinya TIDAK SERUPA dengan mereka yang tidak mengetahui… Jika orang yang mengetahui itu SERUPA dengan yang tidak mengetahui; maka dia sebodoh-bodohnya manusia… Dia sudah tahu, tapi pengetahuan itu tidak nampak dalam dirinya… Dia mengira dia lebih berilmu, tapi pada nyatanya dia bodoh; sebagaimana yang nampak dalam amalannya! Maka sungguh, ilmu itu barulah bermanfaat jika teresapkan kedalam dada, dan tampak dalam perbuatan. Adapun ilmu yang sekedar wawasan, yang tidak teresapkan kedalam dada, sehingga tidak nampak dalam perbuatan; maka ini bukanlah ilmu yang bermanfa’at… bukanlah ilmu yang bermanfa’at (kita memohon kepadaNya ilmu yang bermanfa’at, amalan yang shaalih, serta rizki yang baik [sebagaimana inilah dzikir yang sering dipintakan manusia terbaik (Rasuulullaah) kepada Allaah, setiap selepas shalat shubuh])

Maka hendaknya kita hidup diatas iman dan amalan shaalih, bertaqwa kepadaNya dengan sebenar-benarnya taqwa; karena Dia melihat segala perbuatan kita. Dialah yang akan membalas segala perbuatan kita, Dia Maha Keras adzabNya; akan tetapi Dia pun Maha Luas rahmatNya, dan sebaik-baik pemberi balasan. Maka inginkanlah balasan aakhirat, yang semoga kita semua mati diatas iman dan amalan shaalih; sehingga kita semua bertemu di surgaNya, dan kita bertemu dengan Dzat Yang telah menciptakan kita di surgaNya, dan memandang WajahNya yang Maha Mulia lagi Maha Sempurna, yang tiada kenikmatan yang melebihi kenikmatan tersebut (yang semoga kita semua termasuk yang mendapatkan kenikmatan tersebut; yang dengan itulah hendaknya kita bersemangat dan berlomba-lomba mencarinya) aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Sunday, September 29, 2013

5 Syarat Nak Buat Maksiat




Suatu hari ada seorang lelaki yang menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata, "Wahai Aba Ishak! Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasihat." Setelah mendengar perkataan tersebut Ibrahim berkata, "Jika kamu mahu menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh kamu melakukan maksiat." Lelaki itu dengan tidak sabar-...sabar bertanya. "Apakah syarat-syarat itu, wahai Aba Ishak?"

Ibrahim bin Adham berkata, "Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezekinya." Mendengar itu dia mengernyitkan kening seraya berkata, "Dari mana aku mahu makan? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? "Ya!" tegas Ibrahim bin Adham. "Kalau kamu sudah memahaminya, masih mampukah memakan rezekinya, sedangkan kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya?"

"Yang kedua," kata Ibrahim, "kalau mahu bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya! Syarat ini membuat lelaki itu terkejut setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, "Wahai Abdullah, fikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan kamu melanggar segala larangan-Nya?"
"Ya! Anda benar." kata lelaki itu. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab, "Kalau kamu masih mahu bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!" Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, "Wahai Ibrahim, ini nasihat macam mana? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?" "Ya, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan melakukan maksiat?" kata Ibrahim. Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.

Ibrahim melanjutkan, "Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakanlah kepadanya, 'Ketepikan kematianku dulu. Aku masih mahu bertaubat dan melakukan amal soleh'." Kemudian lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersedar, "Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permintaanku?"

"Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahawa kamu tidak boleh menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau boleh lari dari kemurkaan Allah?"

"Baiklah, apa syarat yang kelima?" Ibrahim pun menjawab, "Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak mengiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau ikut bersamanya."

Perkataan tersebut membuat lelaki itu insaf. Dia berkata, "Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya." Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. "Mulai saat ini aku bertaubat kepada Allah." katanya sambil terisak-isak.

Sumber: Petikan Khutbah Jumaat Masjid Mardi

p/s: Wahai sahabat sekalian, ingin sangatkah kita buat maksiat?? Hebat sangatkah kita nak lawan Tuhan? Berani sangatkah kita hendak mencabar Tuhan yang Maha Segala-gala? Kemana kita boleh lari dari azab Allah?? Tepuk dada tanya iman. Sama-sama kita muhasabah diri balik. Tidak ada yang lebih berkuasa melainkan Allah swt.