Sunday, October 21, 2012

PENGHAPUS-PENGHAPUS DOSA



Antara sifat al-Rahim Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita adalah  terdapat beberapa amalan yang dapat menghapuskan dosa dan kesalahan. Dan sebahagiannya telah datang dalam Al-Quran dan yang lainnya dalam as-Sunnah.
Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah telah menulis sebuah kitab dengan judul “Ma’rifatul Khishaal Mukaffiratu adz-Dzunub al-Muqaddamah Wa al-Muakhkharah” yang artinya “Mengetahui Penghapus-Penghapus Dosa Yang Lalu dan Yang Akan Datang” dan kami telah meringkas perkara-perkara tersebut dari kitab ini dan selainnya yang membahas tema yang sama iaitu tentang hal-hal yang boleh menghapuskan dosa.
Kami meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan Asmaul Husna dan Sifatnya yang tinggi agar memberikan manfaat kepada kami dan kepada seluruh kaum muslimin dengan apa-apa yang ada di dalamnya. Dan berikut ini sebagian amalan yang dapat menhapuskan dosa:

1.Menyempurnakan wudhu dan berjalan menuju masjid klik sini


Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda:
“Apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu dengannya Allah menghapuskan dosa dan ,meningkatkan derajat?” mereka berkata:’Tentu wahai Rasulullah ‘. Beliau menjawab:”Sempurnakanlah wudhu walaupun dalam kondisi tidak menyenangkan, memperbanyak langkah menuju masjid dan menunggu shalat setelah shalat, maka itu adalah ribath, itu adalah ribath, itu adalah ribath (berjaga-jaga di daerah perbatasan musuh)” (Dtrtwayatkan oleh Imam Malik, Muslim, at-Tirmidzi dll. Lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhiib 185)

2.Puasa hari ‘Arafah dan ‘Asyuraa’
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:”Puasa hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala hal itu menghapuskan satu tahun sebelumnya dan sesudahnya, dan puasa ‘Asyuraa’ aku berharap kepada Allah hal itu menghapuskan satu tahun sebelumnya” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Lihat Shahih al-Jaami’)

3. Shalat malam di bulan Ramadhan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:”Barang siapa yang, ,menghidupkan ramadhan (shalat di malamnya), diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasaai)

4. Haji mabrur
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:”Barang siapa yang berhaji dan dia tidak berbuat rafats (hubungan suami istri) dan tidak berbuat kefasikan maka kembali dari dosanya seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya”.(HR.al-Bukhari dan lainnya) 
Dan Rasulullah shallahu 'alaihi wasalam juga bersabda:
”Haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga”.(HR. Imam Ahmad dan ath-Thabrani. Shahihul Jami; (3170))

5. Memaafkan orang yang berhutang

Dari Abu Hurairah berkata:
Dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:”Dahulu ada seorang pedagang yang memberikan hutang kepada manusia (para pembeli), apabila dia melihat mereka kesusahan dalam membayarnya dia berkata kepada pembantunya:’Maafkanlah dia (hapuskan atau tangguhkan hutangnya), semoga Allah kelak akan memaafkan kita. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memaafkannya”.(HR Imam al-Bukhari. Fathul Bari 4/309)

6. Mengikuti keburukan dengan kebaikan

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (artinya):

”Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan”. (QS.Huud: 114)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
”Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan ikutilah perbuatan buruj dengan kebaikanm, nisscaya dia (kebaikan) akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang terpuji”.(hadits hasan. Lihat hadits ke 97 dalam Shahihul Jami’)

7.Menyebarkan salam dan membaguskan ucapan,Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
”Sesungguhnya yang termasuk sebab pengampunan adalah menyebarkan salam dan baik dalam perkataan”.(HR.al-Kharaaithy dalam Makarimul Akhlaq. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah 1935)

8. Sabar ketika mendapatkan ujian,Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda:
”Sesungguhnnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:”Apabila Aku menguji salah seorang hambaku dari hamba-hamba-Ku yang beriman, lalu dia memuji-Ku dan bersabar terhadap ujian yang menimpanya, maka dia bangkit dari pembaringannya seperti ketika dia baru dilahirkan oleh ibunya (bersih) dari dosa. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada para Malaikat penjaga:”Aku telah mengikat hamba-Ku ini dan telah mengujinya, maka tulislah baginya pahala sebagaimana kalian menulisnya sebelum itu ketika dia sehat”.(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/123 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah 144)

9.Menjaga Shalat lima waktu, sholat Jum’at dan puasa Ramadhan,Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
”Shalat lima waktu, (dari) shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa besar dijauhi”.(HR. Imam Muslim)

10. Menyempurnakan wudhu
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda:”Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu, maka ketika membasuh wajahnya keluar dari wajahnya dosa yang dia lihat dengan matanya bersama air wudhu atau tetesan air terakhir. Apabila membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari setiap tangannya dosa yang dia lakukan dengan tangannya bersama air atau air tetesan terakhir. Apabila membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari tiap-tiap kakinya dosa yang dia tempuh dengan kakinya bersama air atau air tetesan terakhir”.(Syarah Shahih Musllim oleh Imam Nawawi rahimahullah) klik sini

11.Membaca zikir-zikir penghapus dosa,
a.Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , beliau bersabda:
”Barang siapa yang ketika mendengar adzan membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا 
maka akan diampuni dosanya.(Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 4/331) 
Dan barang siapa yang membaca:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
dalam sehari 100 kali, dihapuskan kesalahannya walaupun seperti buih di lautan. (HR. al-Bukhari dan Muslim. Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 17/20)

Dan dalam Shahih Muslim juga dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam:
 “Barang siapa yang bertasbih selesai shalat 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali maka itu 99 kali dan menggenapkannya seratus dengan kalimat:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
diampunilah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di laut.”(Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 5/99) 
Dari Mu’adz bin Anas (dari bapaknya) radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:”Barang siapa yang makan lalu membaca:
الحمد لله الذي أطعمني هذا ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة 
(Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan aku dan memberi rizki tanpa daya dan kekuatanku), diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR.at-Tirmidzi, dihasankan oleh al-Albani rahimahullah) 
Dan barang siapa yang memakai pakaian lalu membaca:
لحمد لله الذي كساني هذا و رزقنيه من غير حول مني و لا قوة
(Segala puji bagi Allah yang telah memberi pakaian kepadaaku dan memberi rizki tanpa daya dan kekuatanku), diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR.Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

12.Adzan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إن المؤذن يغفر له مدى صوته 
”Sesungguhnya muadzin diampuni dosanya sejauh mana suaranya”.(hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya. Lihat Shahihul Jami’) 
13.Shalat, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda:
”Apa pendapat kalian sekiranya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, dia mandi setiap hari 5 kali, apakah tersisa kotorannya?Mereka (para Sahabat) berkata:”Tidak tersisa dari kotorannya sedikit pun.”Nabi shallallahu 'alaihi wasallambersabda:”itu seperti shalat lima waktu, Allah menghapuskan dosa-dosa dengannya.”(HR.al-Bukihari dan Muslim. Lihat Fathul Bari 2/11) 
14.Berjalan untuk shalat ke masjid, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda:
”Shalatnya seorang laki-laki bersama jama’ah (di masjid). Dilipat gandakan dari shalatnya di rumahnya, di pasarnya 25 kali lipat, hal itu apabila dia berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu keluar menuju masjid, tidaklah dia keluar kecuali untuk shalat, maka tidaklah dia melangkahkan kakinya satu langkah kecuali dinaikkan untuknya satu derajat, dan dihapuskan darinya satu kesalahan. Apabila selsai shalat maka para Malaikat terus-menerus mendoakannya selama dia berad di tempat shalatnya dengan doa: اللهم صل عليه اللهم ارحمهdan salah seorang di antara kalian berada dalam shala tselama menunggu shalat.(HR.al-Bukhari dan Muslim)
[b]Bertepatan ucapan “Aamiin” nya dengan amiin malaikat, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
p[]“Apabila imam menucapkan { غير المغضوب عليهم ولا الضالين }, maka ucapkanlah aamiin, karena barang siapa yan amiinya bertepatan dengan aamiinnya Malaikat maka diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR. al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari 2/266) 
Dan masih banyak lagi penghapus-penghapus dosa yang lain, seperti ahalat malam. Jihad di jalan Allah, sedekah, telah mendapatkan hukuman had di dunia dan lain-lain.Wallahu A’lam 
Disunting dari sumber asal : al-sofwah.or.id

Saturday, October 20, 2012

Anak Luar Niikah



KUALA LUMPUR 21/03/2010 : 
Seramai 17,303 anak luar nikah Melayu atau tidak sah taraf didaftarkan di seluruh negara sepanjang tahun lalu.

Ketua Pengarah Jabatan Pendaftaran Negara (JPN), Datuk Alwi Ibrahim, berkata bilangan itu meningkat 762 kes berbanding tahun sebelumnya. Pada 2008 seramai 16,541 anak luar nikah didaftarkan di JPN manakala pada 2007 seramai 16,100 orang.

Alwi menjelaskan dalam tempoh lima tahun lalu, JPN mencatatkan 74,723 pendaftaran anak luar nikah adalah membabitkan orang Melayu/Islam. Ini tidak termasuk kes buang bayi yang dilaporkan kepada Jabatan Kebajikan Masyarakat (JKM). “Sepanjang tempoh ini, 214,033 bayi pelbagai bangsa didaftarkan dengan status anak tidak sah taraf, termasuk kes anak yang tidak berbapa 104,834 orang dan 109,199 orang mengikut Seksyen 13, Akta Pendaftaran Kelahiran dan Kematian 1957 (Akta 299),” katanya kepada Berita Minggu.

Mengikut Seksyen 13, bayi itu dianggap anak yang dilahirkan hasil ikatan perkahwinan tidak teratur atau tidak sah mengikut undang-undang negara.
Ini termasuk anak hasil hubungan luar nikah bagi orang Melayu/Islam atau pernikahan tidak didaftarkan mengikut undang-undang negara. Bayi yang lahir kurang enam bulan dari tarikh pernikahan ibu bapanya juga termasuk dalam status sama.

Bagi anak pasangan bukan Islam, kebanyakan kes merujuk kepada anak dilahirkan sebelum tarikh pendaftaran perkahwinan atau anak yang tidak mempunyai bapa.
Dalam tempoh lima tahun dari 2005 hingga 2009, pendaftaran ‘anak luar nikah’ membabitkan orang Melayu menduduki tempat kedua dengan 74,723 kes, di belakang kaum-kaum lain dengan 91,922 kes, diikuti India (23,696 kes) dan Cina (23,692 kes).

Beliau berkata, bayi tanpa bapa daripada keturunan Melayu/Islam diletakkan nama diikuti ‘bin’ atau ‘binti’ Abdullah atau mana-mana nama pilihan Asma Al-Husna (nama-nama Allah).
“Keputusan itu selaras ketetapan Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan dan ia juga selaras format baru sijil kelahiran yang memerlukan nama penuh bayi berserta bin atau binti dipaparkan pada sijil kelahiran. Bagaimanapun, hanya maklumat ibu akan dimasukkan dalam sijil kelahiran bayi berkenaan dan nama pada MyKad kanak-kanak itu kekal menggunakan nama dalam sijil kelahiran,” katanya.

Bagi kes bayi pasangan yang berkahwin di luar negara tanpa mendaftar semula di Malaysia, beliau menasihatkan mereka menyelesaikan urusan dengan pihak berkaitan termasuk majlis agama atau mahkamah.

“Jika anak dilahirkan di luar negara, daftar dengan kedutaan dan apabila pulang ke Malaysia, daftar semula dengan JPN. Bagi kes yang tidak mendaftar perkahwinan mereka tetapi sudah mempunyai anak, mereka boleh mendaftar terus untuk dapatkan sijil kelahiran tanpa perlu dokumen daripada mahkamah, tetapi nama bapa tidak akan dimasukkan dalam rekod. Maklumat itu boleh diganti dengan nama sebenar bapa selepas mendapat pengesahan status perkahwinan,” katanya.
Sumber : Mohd Azis Ngah [azis@bharian.com.my] di BHarian 22/03/2010

Friday, October 19, 2012

Akibat berebut tanah



Rasulullah s.a.w telah bersabda:
”Siapa merampas sejengkal tanah, dikalungkan Allah kepadanya kelak di hari kiamat tujuh lapis bumi.” (Muslim)

Huraian ringkas
Sangat besar siksa orang yang merampas atau mengambil tanah orang lain sehingga dikalungkan dengan satu kalung seberat 7 lapis bumi bagi setiap jengkal tanah yang diambil.

Satu Kisah
Dalam satu kisah seorang Yahudi dan seorang Islam telah berebut tanah (yang sebenarnya dimiliki Yahudi tersebut). Yahudi itu mencadangkan agar mereka berjumpa Nabi untuk menyelesaikan masalah tanah itu. Setelah dibicarakan, Nabi s.a.w memutuskan bahawa tanah itu milik Yahudi tersebut.

Orang Islam itu (sebenarnya munafiq-islam pura-pura) tidak berpuas hati dengan keputusan itu lalu mencadangkan agar mereka bertemu Sayyidina Umar pula untuk mengadili kes mereka.
Setelah berjumpa Sayyidina Umar dan menceritakan bahawa Nabi telah membuat keputusan dan mereka ingin pula mendengar pendapat Sayyidina Umar. Kata Sayyidina Umar “tunggu sekejap” Lalau beliau ke belakang rumahnya mengambil sebilah pedang dan terus memancung kepala Islam munafiq tadi.

Kecohlah suasana pada masa itu, orang mengatakan Sayyidina Umar membunuh seorang Islam. Lalu turunlah ayat Allah yang membenarkan perbuatan Sayyidina Umar:

Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)! Mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka, kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka sesuatu keberatan dari apa yang telah engkau hukumkan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya. 
سورة النساء , An-Nisa, Chapter #4, Verse #65)
Mac 31, 2008 — sulaiman

Thursday, October 18, 2012

Modul Cegah Hamil

Modul Cegah Hamil Luar Nikah Dalam Kokurikulum Tahun Enam, Tingkatan Tiga


KUALA LUMPUR: Satu projek perintis untuk mendidik pelajar mengenai bahaya seks luar nikah diperkenalkan sebagai sebahagian daripada kokurikulum sekolah pada bulan lepas, yang merupakan cara untuk mencegah kehamilan di kalangan gadis di bawah 16 tahun.
Pelaksanaan itu merupakan antara langkah yang diambil oleh Kementerian Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat untuk menangani isu sosial yang mencatatkan lebih 6,000 kehamilan dan kelahiran yang melibatkan gadis di bawah usia 16 tahun sejak tahun 2000.
“Berdasarkan data Jabatan Pendaftaran Negara (JPN), sejumlah 6,820 kehamilan dan kelahiran melibatkan gadis di bawah 16 tahun telah direkodkan antara 2000 dan 9 Oktober 2012,” kata menteri dalam jawapan bertulis kepada Chong Eng (DAP-Bukit Mertajam) di Parlimen.

Projek perintis itu merupakan kerjasama dengan Kementerian Pelajaran, mengajar murid Tahun Enam dan pelajar Tingkatan Tiga mengenai risiko dan bahaya seks menerusi program Kesihatan Reproduktif dan Sosial.

Program itu berdasarkan modul Kesihatan Reproduktif Remaja oleh Persatuan Kesihatan Reproduktif Persekutuan.

“Program ini dilaksanakan sebagai sebahagian daripada kokurikulum untuk Tahun Enam dan Tingkatan Tiga selepas peperiksaan UPSR dan PMR, serta pelajar yang menjalani peperiksaan khas di sekolah-sekolah terpilih di seluruh negara mulai September,” katanya.
Kementerian itu berkata, terdapat 67 guru diberi latihan untuk mengajar 1,360 pelajar mengenai bahaya dan risiko seks sebelum berkahwin semasa program itu diadakan antara 8 dan 10 September.

Masalah Fitnah Ziarah Kubur Nabi



  شد الرحل إلى قبره النبي
Fitnah berkenaan dengan hukum ziarah kubur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Para pemfitnah mendakwa, Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah melarang ziarah ke kubur Nabi! Benarkah sedemikian? Soalan atau fitnah ini dijawab seperti berikut:

 Pertama:
Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah tidak melarang amalan ziarah kubur, termasuklah kubur Nabishallallahu 'alaihi wasallam. Ini kerana ia adalah amalan sunnah yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah menjelaskan:
Berkata kebanyakan (ilmuan), ziarah kubur orang-orang mukmin adalah dianjurkan untuk mendoakan (kebaikan) bagi yang telah mati di samping mengucapkan salam ke atas mereka. Ini sebagaimana Nabishallallahu 'alaihi wasallam yang pernah keluar ke perkuburan Baqi' dan mendoakan (kebaikan) untuk mereka. Demikian juga sabit dalam hadis Shahih al-Bukhari dan Muslim bahawa baginda keluar ke perkuburan Syuhada' Uhud dan mensolatkan mereka seperti solatnya ke atas orang–orang yang meninggal dunia.

 Kedua:
Larangan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah hanyalah kepada amalan mengadakan satu perjalanan yang khusus ke kubur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atau kubur orang-orang shalih. Ini kerana di kalangan ahli ibadah ada yang berkata: “Kami tidak bermaksud menziarahi masjid (Nabawi), maksud kami ialah ke kubur baginda sahaja.”
Larangan ini tidak berasal daripada Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah sahaja, tetapi juga para ilmuan yang lain. Beliau menjelaskan hakikat ini dengan berkata:
Sedia dimaklumi bahawa pendapat ini dipegang oleh sejumlah besar para ilmuan zaman awal seperti Malik dan kebanyakan sahabatnya, al-Juwaini Abu Muhammad serta selainnya daripada para sahabat al-Syafi‘e dan kebanyakan para sahabat awal Ahmad (bin Hanbal).

Ketiga:
Pandangan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah ini memiliki dalil di sebaliknya dan beliau tidak berseorangan dalam berpandangan sedemikian. Seandainya para pembuat fitnah mengkaji masalah ini dengan adil, nescaya mereka akan dapati pandangan beliau tidak terkeluar dari peraturan para ahli ilmu beserta kaedah penghujahan dan pendalilan mereka.

[1] Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah menggunakan ayat “Berkata kebanyakan (ilmuan)…” kerana dalam bab ini sebenarnya terdapat perbezaan pendapat. Di antara para ilmuan ada yang berpendapat ziarah kubur di larang secara mutlak. Sebahagian lagi berpendapat ia dibolehkan bagi lelaki dan dilarang bagi wanita. Manakala kebanyakan dari mereka berpendapat dibolehkan bagi lelaki dan wanita.

[2]  Majmu' al-Fatawa, jld. 27, ms. 377.

[3]  Larangan ini berdalilkan hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
 لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى.
Tidak boleh mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid, iaitu al-Masjid al-Haram (di Mekah), Masjid Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam (di Madinah) dan Masjid al-Aqsa (di Palestin). [Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalamShahihnya, hadis no: 1189 (Kitab Fadhli al-Sholah fi Makkah wa al-Madinah, Bab keutamaan solat di masjid Mekah dan Madinah)].

Berdasarkan hadis ini, tidak boleh mengadakan satu perjalanan yang khusus atas tujuan ibadah kecuali ke tiga masjid di atas. Ibadah yang dimaksudkan ialah apa yang lazim dilakukan dalam masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada AllahSubhanahu wa Ta'ala (taqarrub) seperti solat, iktikaf, doa, zikir dan membaca al-Qur’an.

Ada pun perjalanan selain itu, seperti dakwah, jihad, menuntut ilmu, berniaga, ziarah ahli keluarga dan sebagainya, ia tidak termasuk dalam perbincangan hadis. Dalilnya adalah amalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat pada zaman baginda, mereka lazim melakukan perjalanan kerana dakwah, jihad, menuntut ilmu, berniaga dan menziarahi ahli keluarga. Ada pun perjalanan demi ibadah, mereka tidak melakukannya melainkan ke tiga masjid yang utama di atas.

[4] Majmu’ al-Fatawa, jld. 27, ms. 233. 3.UMRAH ZIARAH

[5] Kadangkala berlaku kesamaran antara kebolehan menziarah kubur, termasuk kubur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan larangan mengadakan satu perjalanan khusus menziarahi kubur orang shalih, termasuk kubur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka para pembaca sekalian hendaklah membezakan dengan jelas antara dua perkara di atas.

 Ziarah kubur adalah dibolehkan, malah dianjurkan. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah berkata:
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengizinkan ziarah kubur setelah sebelumnya baginda melarang. Sebabnya adalah, ziarah kubur akan mengingatkan penziarah kepada kematian dan negeri Akhirat. Izin yang diberikan bersifat umum, baik menziarahi kubur umat Islam atau orang kafir. [Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim li Mukhalafat Ashbah al-Jahim (tahqiq: Dr. Nashr bin ‘Abd al-Karim al-‘Aql; Dar al-Isybiliya, Riyadh, 1418H), jld. 2, ms. 181]

 Ada pun mengadakan perjalanan khusus untuk menziarahi kubur, maka berkata Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah:
Para sahabat kami dan selain mereka berbeza pendapat sama ada dibolehkan mengadakan satu perjalanan untuk ziarah kubur. Perbezaan ini membuahkan dua pendapat:

1.   Tidak boleh dan (sesiapa yang) melakukan perjalanan tersebut, dia telah bermaksiat. Dengan itu juga dia tidak boleh mengqasarkan solat dalam perjalanan itu. Ini adalah pendapat Ibn Baththal dan Ibn ‘Aqil dan selain mereka. Ini kerana mengadakan perjalanan seperti itu adalah bid‘ah, ia tidak pernah dilakukan pada zaman al-Salaf dan termasuk dalam larangan yang akan diterangkan selepas ini. Juga kerana dalam dua kitab sahih, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda:Tidak boleh mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid, iaitu al-Masjid al-Haram (di Mekah), Masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (di Madinah) dan Masjid al-Aqsa (di Palestin). Perjalanan yang dimaksudkan oleh hadis ini ialah ke semua masjid, tempat bersejarah dan semua tempat yang mana perjalanan itu dilakukan dengan tujuan bertaqarrub (beribadah kepada Allah).

2. Dibolehkan mengadakan perjalanan tersebut, demikian pendapat yang dikemukakan oleh sekumpulan tokoh mutakhir, di antara mereka Abu Hamid al-Ghazali, Abu al-Hasan bin ‘Abdus al-Harani dan al-Syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi. Walaubagaimana pun kami tidak mengetahui pendapat seperti ini berasal daripada seorang jua yang terdahulu. [Iqtidha’ Shirat al-Mustaqim, jld. 2, ms. 182-183 dengan nukilan berpisah-pisah]