Monday, September 17, 2012

BERJABAT TANGAN SUNNAHKAH?



Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Asasnya adalah aqidah yang benar, bagunannya adalah amal shalih dan hiasannya adalah akhlak yang mulia.

Diantara akhlak islami yang mulia yang menghiasi diri kaum muslimin dan termasuk sebagai bukti atau kensekuensi persaudaraan sejati iaitu berjabat tangan tatkala berjumpa. Pertanyaannya, bagaimana aturan Islam dalam berjabat tangan yang mendatangkan kebaikan itu ? Sudah benarkah praktik yang dilakukan oleh kaum Muslimin sekarang ini ? Ini perlu sekali untuk diketahui bersama, Pada hari ini, biasanya berjabat tangan itu seakan sudah menjadi kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.

Berikut adalah pembahasan sekitar berjabat tangan dalam Islam, hukum dan keutamaannya serta hal-hal yang berkait dengannya. 
HUKUM BERJABAT TANGAN DAN ASAL USULNYA
Berjabat tangan adalah sunnah yang disyari'atkan dan adab mulia para shahabat Radhiyallahu anhum yang dipraktikkan sesama mereka tatkala berjumpa.

Imam Bukhâri rahimahullah dalam kitab al-Isti'dzân dalam kitab Shahihnya memuat sebuah bab yang berjudul Babul Mushafahah (Bab: Berjabat Tangan). Dalam bab ini, beliau rahimahullah membawakan beberapa hadits yang menjelaskan sunnahnya berjabat tangan tatkala bersua, diantaranya :

عَنْ قَتَادَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسٍ أَكَانَتْ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ

Dari Qatâdah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Saya bertanya kepada Anas (bin Mâlik) Radhiyallahu anhu , ‘Apakah berjabat tangan dilakukan dikalangan para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?’ Beliau Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya’

Dalam riwayat lain :

كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَلاَقَوْا تَصَافَحُوْا وَإِذَا قَدِمُوْا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوْا

Adalah shahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mereka bertemu, mereka saling berjabat tangan dan apabila kembali dari perjalanan mereka saling berangkulan .

Dan hadits Ka'ab Bin Mâlik Radhiyallahu anhu setelah turunnya taubat beliau, ia berkata :

دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ حَوْلَهُ النَّاسُ فَقَامَ إِلَيَّ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي

Saya masuk masjid (Nabawi) sementara Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang dalam keadaan duduk dan dikelilingi oleh manusia (para shahabat), lalu Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu anhu berlari ( kearahku) lalu beliau Radhiyallahu anhu berjabat tangan denganku dan memberikan ucapan selamat kepadaku.

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa dalam hadits ini banyak terkandung faedah, diantaranya : "Disunnahkan berjabat tangan tatkala berjumpa. Ini merupakan sunnah yang tidak diperselisihkan."

Dari sebagian hadits diatas disimpulkan bahwa berjabat tangan tatkala bersua adalah sunnah yang disyari'atkan, sebagaimana yang dipertegas oleh para Ulama, seperti :

- Imam Ibnu Baththal rahimahullah yang mengatakan, "Berjabat tangan adalah kebaikan menurut seluruh Ulama."

- Imam Nawawi rahimahullah yang juga mengatakan, "Berjabat tangan adalah sunnah tatkala bersua berdasarkan hadits hadits yang shahih dan ijma' para Imam."

ASAL-USUL JABAT TANGAN
Orang-orang melakukan ini untuk kali pertama adalah penduduk Yaman yang terkenal dengan keimanan dan keilmuan mereka. Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengungkapkan :

لَمَّا جَاءَ أَهْلُ الْيَمَنِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ وَهُمْ أَوَّلُ مَنْ جَاءَ بِالْمُصَافَحَةِ

Tatkala penduduk Yaman datang (ke Madinah) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, dan merekalah orang yang pertama sekali yang melakukan berjabat tangan."

Dalam riwayat lain Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ عَلَيْكُمْ غَدًا أَقْوَامٌ هُمْ أَرَقُّ قُلُوبًا لِلْإِسْلَامِ مِنْكُمْ قَالَ فَقَدِمَ الْأَشْعَرِيُّونَ فِيهِمْ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَلَمَّا دَنَوْا مِنْ الْمَدِينَةِ جَعَلُوا يَرْتَجِزُونَ يَقُولُونَ : غَدًا نَلْقَى الْأَحــــِبَّهْ مُــحَمَّدًا وَحِـــزْبَهْ فَلَمَّا أَنْ قَدِمُوا تَصَافَحُوا فَكَانُوا هُمْ أَوَّلَ مَنْ أَحْدَثَ الْمُصَافَحَةَ

Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Besok akan datang kepada kalian kaum yang hati mereka lebih lembut untuk (menerima) Islam dari pada kalian.’ Anas mengatakan, ‘Maka datanglah kabilah Asy'ariyyun, diantara mereka ada Abu Musa al-Asy'ari. Tatkala mereka telah mendekati kota Madinah, mereka melantunkan sebagian sya'irnya seraya berkata, "Besok kita akan berjumpa dengan para kekasih, Muhammad dan shahabatnya".
Tatkala mereka telah datang mereka berjabatan tangan, merekalah orang yang pertama sekali melakukan jabat tangan.
BEBERAPA PERKARA YANG DILARANG DAN MENYALAHI SUNNAH DALAM BERJABAT TANGAN
1. Berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Tidak diperbolehkan seorang lelaki berjabat tangan dengan wanita dan wanita berjabat tangan dengan laki laki yang bukan mahramnya. Sebagaimana dalam hadits :

إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ

Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita [18].

'Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata :

وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي الْمُبَايَعَةِ مَا يُبَايِعُهُنَّ إِلَّا بِقَوْلِهِ

Demi Allâh,tidak pernah tangan Rasûlullâh menyentuh tangan wanita sama sekali dalam bai'at. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengambil bai'at (atas) mereka kecuali dengan perkataan .

2. Waspadai berjabat tangan dengan al-amrad (anak muda ganteng yang belum tumbuh jenggotnya).
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, "Dan hendaklah waspada dari berjabat tangan dengan al-amrad yang ganteng, karena melihatnya tanpa ada keperluan adalah haram berdasarkan pendapat yang shahih."

Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, "Dan di kecualikan dari keumuman perintah untuk berjabat tangan yaitu berjabat tangan wanita lain (bukan mahram) dan amrad (anak muda) yang ganteng"

3. Mengucapkan shalawat tatkala berjabat tangan.
Kebiasan sebagian kaum Muslimin apabila berjabat tangan mereka mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak diragukan bahwa ini adalah perbuatan bid'ah yang tidak ada landasan dalam agama, karena mengucapkan shalawat adalah ibadah, dan tidak terdapat satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa diantara tempat bershalawat adalah tatkala berjabat tangan. Maka jelaslah bahwa ia adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah. Karena sekiranya hal itu adalah suatu ibadah dan kebaikkan maka tentu Rasul dan para shahabat yang akan lebih dahulu mengamalkannya.

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya "Jalâ’ul afhâm fi Fadhli ash-Shalât 'ala Khairil Anâm" menyebutkan empat puluh satu (41) tempat yang disyari'atkan bershalawat padanya, dan tidak satu dari tempat tersebut diwaktu berjabat tangan. Ini memperkuat pernyataan diatas bahwa bershalawat tatkala berjabat tangan adalah perkara yang bid'ah yand tidak ada landasannya dalam agama, wallahu a'lam.

4. Berjabat tangan sesudah shalat antara makmum dengan imam atau antara para makmum.
Amalan seperti ini tidak ada landasan dalam sunnah, tidak pernah dilakukan oleh rasul dan para shahabatnya, kecuali bila seseorang bertemu dengan teman atau saudaranya yang sebelumnya ia belum bersua, maka diperbolehkan baginya untuk berjabat tangan. Karena berjabat tangan disyari'atkan tatkala berjumpa sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Adapun sesama jama'ah yang setiap hari dan waktu berjumpa di masjid atau mushalla, maka tidak disyari'atkan untuk berjabat tangan setiap selesai shalat, karena perbuatan seperti ini adalah perkara bid'ah yang telah dingkari oleh para Ulama.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Adapun tradisi berjabat tangan yang dilakukan oleh menusia sesudah shalat Shubuh dan Ashar maka tidak ada landasan atau asalnya dalam syari'at seperti ini"

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, "Adapun berjabat tangan setelah shalat fardhu maka tidak diragukan bahwa ia adalah bid'ah, kecuali diantara dua orang yang belum berjumpa sebelumnya, maka ia adalah sunnah sebagaimana yang Anda ketahui."

Hukum ini pulalah yang di fatwakan oleh "Lajnah ad daimah" (komite fatwa di Saudi Arabia) seraya berkata, "Tradisi berjabat tangan setelah shalat fardhu antara imam dan makmum atau diantara para makmum, seluruhnya adalah bid'ah tidak ada landasannya. Oleh karena itu, wajib ditinggalkan, karena sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada landasan dari perintah kami maka tertolak", dan adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat bersama para shahabatnya, begitu juga para khalifah sepeninggalnya, mereka shalat bersama kaum Muslimin, namun tidak dinukilkan keterangan tentang rutinitas berjabat tangan setelah shalat. Padahal, sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perkara adalah yang baru, dan setiap perkar yang baru (dalam agama) adalah bid'ah dan setiap yang bid'ah adalah sesat"].

Kesimpulan
Demikianlah pembahasan singkat tentang hukum berjabat tangan dalam Islam, dari apa yang diutarakan bisa disimpulkan beberap poin berikut :

1. Berjabat tangan disyariatkan tatkala berjumpa dan berpisah, sekalipun kedudukannya tidak sama dengan waktu berjumpa.
2. Berjabat tangan merupakan adab dan akhlak para shahabat sesama mereka tatkala bersua.
3. Berjabat tangan diantara sebab pengampunan dosa.
4. Tidak diperbolehkan berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.
5. Tidak disyari'atkan mengucapkan shalawat tatkala berjabat tangan, karena tidak ada dasarnya.
6. Berjabat tangan setelah shalat adalah ritual yang bid'ah, kecuali antara dua orang yang belum bertemu sebelumnya.

Semogah Allâh Azza wa Jalla senatiasa membimbing kita dan seluruh kaum muslimin untuk mempelajari sunnah dan mengamalkannya serta menghiasi diri kita semua dengan ahklak islamiyah karimah, Amiin.
umrah murah
Oleh: Ustadz DR. Nur Ihsan
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XV/1432/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183

Sunday, September 16, 2012

DOA RASULULLAH DI WAKTU PAGI

 Menurut Ummu Salamah r.a. (salah seorang isteri Nabi s.a.w.); Nabi s.a.w. apabila berada di waktu pagi, baginda akan membaca doa;

اللَّهُمَّ إني أسألُكَ عِلْماً نافعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, wahai Tuhanku! Aku memohon dari Engkau ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik dan amal yang diterima”. (Riwayat Imam Ibnu Majah/Lihat: Al-Azkar, Imam an-Nawawi, bab Ma Yuqalu ‘Inda as-Shobah)

Waktu pagi adalah permulaan hidup kita. Pada waktu pagi manusia biasa merancang apa yang hendak dilakukanya pada hari yang bakal ia lalui. Dalam doa di atas, Rasulullah s.a.w. mengajar kita supaya memfokuskan tiga perkara untuk kita capai dalam perjalanan hidup kita seharian, salah satu darinya ialah rezki yang baik iaitu rezki yang bersih dan HALAL serta diberkati Allah.

Doa di atas bukan sahaja perlu dijadikan amalan harian, malah perlu menjadi motivasi kepada para pengeluar, pengusaha dan peniaga muslim untuk lebih menggiatkan usaha mengeluar dan memperniagakan produk-produk HALAL khususnya yang berkait dengan makanan dan barang-barang kegunaan harian kerana usaha tersebut membuka medan seluas-luasnya kepada kaum muslimin untuk dapat menikmati rezki yang baik (yang bersih, HALAL dan diredhai Allah) sehingga tidak ada alasan lagi untuk mereka terlibat dengan yang haram.

PAKEJ UMRAH

Saturday, September 15, 2012

Azan & Iqamah bayi bersumberkan Hadis Palsu



Ada Empat hadith yang diriwayatkan dalam masalah azan pada telinga bayi ini.

Pertama:
Dari Abi Rafi maula Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam ia berkata : "Aku melihat Rasulullah mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan bin Ali dengan azan solat ketika Fathimah Radhiyallahu 'anha melahirkannya".

Dikeluarkan oleh Abu Daud (5105), At-Tirmidzi (4/1514), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (9/300) dan Asy-Syu'ab (6/389-390), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (931-2578) dan Ad-Du'a karya beliau (2/944), Ahmad (6/9-391-392), Abdurrazzaq (7986), Ath-Thayalisi (970), Al-Hakim (3/179), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (11/273). Berkata Al-Hakim : "Sahih isnadnya dan Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya". Ad-Zahabi mengkritik penilaian Al-Hakim dan berkata : "Aku katakan : Ashim Dha'if". Berkata At-Tirmidzi : "Hadith ini hasan sahih".

Semuanya dari jalan Sufyan At-Tsauri dari Ashim bin Ubaidillah dari Ubaidillah bin Abi Rafi dari bapanya.

Kedua:
Dan dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (926, 2579) dan Al-Haitsami meriwayatkannya dalam Majma' Zawaid (4/60) dari jalan Hammad bin Syua'ib dari Ashim bin Ubaidillah dari Ali bin Al-Husain dari Abi Rafi dengan tambahan.

"Beliau azan pada telinga Al-Hasan dan Al-Husain".

Rawi berkata pada akhirnya : "Dan Nabi memerintahkan mereka berbuat demikian".

Dalam isnad ini ada Hammad bin Syuaib, ia dilemahkan oleh Ibnu Main. Berkata Al-Bukhari tentangnya : "Mungkarul hadith". Dan pada tempat lain Bukhari berkata : Mereka meninggalkan hadithnya".

Berkata Al-Haitsami dalam Al-Majma (4/60) : "Dalam sanadnya ada Hammad bin Syua'ib dan ia lemah sekali".

Kami katakan di dalam sanadnya juga ada Ashim bin Ubaidillah ia lemah, dan Hammad sendiri telah menyelisihi Sufyan At-Tsauri secara sanad dan matan, di mana ia meriwayatkan dari Ashim dan Ali bin Al-Husain dari Abi Rafi dengan mengganti Ubaidillah bin Abi Rafi dengan Ali bin Al-Husain dan ia menambahkan lafadz : "Al-Husain" dan perintah azan. Hammad ini termasuk orang yang tidak diterima hadithnya jika ia bersendiri dalam meriwayatkan. Dengan begitu diketahui kelemahan hadithnya, bagaimana tidak sedangkan ia telah menyelisihi orang yang lebih tsiqah darinya dan lebih kuat dhabitnya iaitu Ats-Tsauri. Kerana itulah hadith Hammad ini mungkar, pertama dinisbatkan kelemahannya dan kedua kerana ia menyelisihi rawi yang tsiqah.

Adapun jalan yang pertama yakni jalan Sufyan maka di dalam sanadnya ada Ashim bin Ubaidillah. Berkata Ibnu Hajar dalam At-Taqrib : "Ia Dhaif", dan Ibnu Hajar menyebutkan dalam At-Tahdzib (5/42) bahawa Syu'bah berkata : "Seandainya dikatakan kepada Ashim : Siapa yang membangun masjid Bashrah nescaya ia berkata : 'Fulan dari Fulan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahawa sanya beliau membagunnya".

Berkata Adz-Zahabi dalam Al-Mizan (2/354) : "Telah berkata Abu Zur'ah dan Abu Hatim : 'Mungkarul Hadith'. Berkata Ad-Daruquthni : 'Ia ditinggalkan dan diabaikan'. Kemudian Daruquthni membawakan untuknya hadith Abi Rafi bahawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam azan pada telinga Al-Hasan dan Al-Husain" (selesai nukilan dari Al-Mizan).

Maka dengan demikian hadith ini dha'if kerana perselisihannya pada Ashim dan anda telah mengetahui keadaannya.

Ibnul Qayyim telah menyebutkan hadith Abu Rafi' dalam kitabnya Tuhfatul Wadud (17), kemudian beliau membawakan dua hadith lagi sebagai syahid bagi hadith Abu Rafi'. Salah satunya dari Ibnu Abbas dan yang lain dari Al-Husain bin Ali. Beliau membuat satu bab khusus dengan judul "Sunnahnya azan pada telinga bayi". Namun kita lihat keadaan dua hadith yang menjadi syahid tersebut.

Ketiga:
Hadith Ibnu Abbas dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman (6/8620) dan Muhammad bin Yunus dari Al-Hasan bin Amr bin Saif As-Sadusi ia berkata : Telah menceritakan pada kami Al-Qasim bin Muthib dari Manshur bin Shafih dari Abu Ma'bad dari Ibnu Abbas.
"Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam azan pada telinga Al-Hasan bin Ali pada hari dilahirkannya. Beliau azan pada telinga kanannya dan iqamah pada telinga kiri".

Kemudian Al-Baihaqi mengatakan pada isnadnya ada kelemahan.

Kami katakan : Bahkan hadithnya maudhu' (palsu) dan cacat (illat)nya adalah Al-Hasan bin Amr ini. berkata tentangnya Al-Hafiz dalam At-Taqrib : "Matruk".

Berkata Abu Hatim dalam Al-Jarh wa Ta'dil 91/2/26) tarjumah no. 109 :'Aku mendengar ayahku berkata : Kami melihat ia di Bashrah dan kami tidak menulis hadith darinya, ia ditinggalkan hadithnya (matrukul hadith)".

Berkata Ad-Zahabi dalam Al-Mizan : "Ibnul Madini mendustakannya dan berkata Bukhari ia pendusta (kadzdzab) dan berkata Ar-Razi ia matruk.

Sebagaimana telah dimaklumi dari kaedah-kaedah Musthalatul Hadith bahawa hadith yang dhaif tidak akan naik ke darjat sahih atau hasan kecuali jika hadith tersebut datang dari jalan lain dengan syarat tidak ada pada jalan yang lain itu (jalan yang akan dijadikan pendukung bagi hadith yang lemah) rawi yang sangat lemah lebih-lebih rawi yang pendusta atau matruk. Bila pada jalan lain keadaannya demikian (ada rawi yang sangat lemah atau pendusta atau matruk, -pent) maka hadith yang mau dikuatkan itu tetap lemah dan tidak dapat naik ke darjat yang boleh dipakai untuk berdalil dengannya. Pembahasan hadithiyah menunjukkan bahawa hadith Ibnu Abbas tidak sepatutnya menjadi syahid bagi hadith Abu Rafi maka hadith Abu Rafi tetap Dhaif, sedangkan hadith Ibnu Abbas maudhu’.

Keempat:
Adapun hadith Al-Husain bin Ali adalah dari riwayat Yahya bin Al-Ala dari Marwan bin Salim dari Thalhah bin Ubaidillah dari Al-Husain bin Ali ia berkata: bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Siapa yang kelahiran anak lalu ia mengazankannya pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri maka Ummu Shibyan (jin yang suka mengganggu anak kecil) tidak akan membahayakannya".

Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman (6/390) dan Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah (hadith 623) dan Al-Haitsami membawakannya dalam Majma' Zawaid (4/59) dan ia berkata : Hadith ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan dalam sanadnya ada Marwan bin Salim Al-Ghifari, ia matruk".

Kami katakan hadith ini diriwayatkan Abu Ya'la dengan nombor (6780).

Berkata Muhaqqiqnya : "Isnadnya rosak dan Yahya bin Al-Ala tertuduh memalsukan hadith". Kemudian ia berkata: 'Sebagaimana hadith Ibnu Abbas menjadi syahid bagi hadith Abi Rafi, Ibnul Qayyim menyebutkan dalam Tuhfatul Wadud (hal.16) dan dikelurkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dan dengannya menjadi kuatlah hadith Abi Rafi. Boleh jadi dengan alasan ini At-Tirmidzi berkata : 'Hadith hasan sahih', yakni sahih lighairihi. Wallahu a'lam (12/151-152).

Kami katakan : tidaklah perkara itu sebagaimana yang ia katakan kerana hadith Ibnu Abbas pada sanadnya ada rawi yang pendusta dan tidak patut menjadi syahid terhadap hadith Abu Rafi sebagaimana penjelasan terdahulu, Wallahu a'lam.

Sedangkan haidts Al-Husain bin Ali ini adalah palsu, pada sanadnya ada Yahya bin Al-Ala dan Marwan bin Salim keduanya suka memalsukan hadith sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dlaifah (321) dan Albani membawakan hadith Ibnu Abbas dalam Ad-Dlaifah nombor (6121). Inilah yang ditunjukkan oleh pembahasan ilmiah yang benar. Dengan demikian hadith Abu Rafi tetap lemah kerana hadith ini sebagaimana kata Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam At-Talkhish (4/149): "Perputaran hadith ini pada Ashim bin Ubaidillah dan ia Dhaif.

Syaikh Al-Albani telah membawakan hadith Abu Rafi dalam Sahih Sunan Tirmidzi no. (1224) dan Sahih Sunan Abi Daud no (4258), beliau berkata: "Hadith hasan". Dan dalam Al-Irwa (4/401) beliau menyatakan: Hadith ini Hasan Isya Allah".

Dalam Ad-Dha’ifah (1/493) Syaikh Al-Albani berkata dalam keadaan melemahkan hadith Abu Rafi' ini : "At-Tirmidzi telah meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Abu Rafi, ia berkata :

"Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam azan dengan azan solat pada telinga Al-Husain bin Ali ketika ia baru dilahirkan oleh ibunya Fathimah".

Berkata At-Timidzi : "Hadith sahih (dan diamalkan)".

Kemudian berkata Syaikh Al-Albani : "Mungkin penguatan hadith Abu Rafi dengan adanya hadith Ibnu Abbas". (Kemudian beliau menyebutkannya) Dikelurkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman.

Aku (yakni Al-Albani) katakan : "Mudah-mudahan isnad hadith Ibnu Abbas ini lebih baik daipada isnad hadith Al-Hasan (yang benar hadith Al-Husain yakni hadith yang ketiga pada kami, -penulis) dari sisi hadith ini pantas sebagai syahid terhadap hadith Abu Rafi, wallahu 'alam. Maka jika demikian hadith ini sebagai syahid untuk masalah azan (pada telinga bayi) kerana masalah ini yang disebutkan dalam hadith Abu Rafi', adapaun iqamah maka hal ini gharib, .

Kemudian Syaikh Al-Albani berkata dalam Al-Irwa (4/401) : 'Aku katakan hadith ini (hadith Abu Rafi) juga telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas dengan sanad yang lemah. Aku menyebutkannya seperti syahid terhadap hadith ini ketika berbicara tentang hadith yang akan datang setelahnya dalam Silsilah Al-Hadith Adl-Dhaifah no (321) dan aku berharap di sana ia dapat menjadi syahid untuk hadith ini, .

Syaikh Al-Albani kemudian dalam Adh-Dha’ifah (cetakan Maktabah Al-Ma'arif) (1/494) no. 321 menyatakan : "Aku katakan sekarang bahawa hadith Ibnu Abbas tidak sepatutnya sebagai syahid kerana pada sanadnya ada rawi yang pendusta dan matruk. Maka Aku heran dengan Al-Baihaqi kemudian Ibnul Qayyim kenapa keduanya merasa cukup atas pendlaifannya. Hingga hampir-hampir aku memastikan pantasnya (hadith Ibnu Abbas) sebagai syahid. Aku memandang termasuk kewajiban untuk memperingatkan hal tersebut dan takhrijnya akan disebutkan kemudian (61121)" (selesai ucapan Syaikh).

Maka dengan demikian wajib untuk memperingatkan para penuntut ilmu dan orang-orang yang mengamalkan sunnah yang sahihah yang tsabit dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada setiap tempat bahawa yang pegangan bagi hadith Abu Rafi' yang lemah adalah sebagaimana pada akhirnya penelitian Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dha’ifah berhenti padanya. Dan inilah yang ada di hadapan anda. Dan hadith ini tidaklah sahih seperti yang sebelumnya beliau sebutkan dalam Sahih Sunan Tirmidzi dan Sahih Sunan Abu Daud serta Irwa’ul Ghalil, .
umrah murah
Kemudian kami dapatkan syahid lain dalam Manaqib Imam Ali oleh Ali bin Muhammad Al-Jalabi yang masyhur dengan Ibnul Maghazil, tapi ia juga tidak pantas sebagai syahid kerana dalam sanadnya ada rawi yang pendusta.
by ziyad » Feb 2nd, '05, 15:25

Thursday, September 13, 2012

Hukum al-Quran dalam CD, PDA dan handphone



Dr. Husam Affanah, Prof Fiqh dan Usul Universiti al-Quds, Palestin telah membuat kajian mengenai persoalan ini.
Merujuk kepada kajian yang dibuat oleh Dr Husam, secara ringkasnya adalah seperti berikut:
Tidak syak lagi al-Quran yang kita dengar dari CD merupakan al-Quran yang diturunkan oleh Allah swt. Namun ia tidak mengambil hukum mashaf al-Quran dari sudut tidak boleh disentuh kecuali dalam keadaan berwudhu' menurut pandangan kebanyakan ahli ilmu. Adalah harus menyentuh CD kerana al-quran yang terdapat di dalamnya tidak disimpan dalam bentuk huruf-huruf al-Quran tetapi ia disimpan dalam bentuk sistem binari. Iaitu satu sistem yang menggunakan kod tertentu dan setiap kod mengandungi 8 digit…. rujuk huraian pakar dalam bidang ini.
Walaupun CD tidak boleh disamakan dengan mashaf al-quran, tetapi aku berpandangan tidak harus merendah-rendahkannya dengan dibuang ke dalam tong sampah, khususnya apabila ditulis pada CD tersebut perkataan yang menyatakan ia adalah CD al-Quran.
Begitu juga dengan al-Quran yang terdapat dalam handphone, ia tidak mengambil hukum mashaf al-Quran yang memerlukan wudhu' untuk menyentuhnya seperti mazhab kebanyakan ahli ilmu.
Walaubagaimanapun aku berpandangan tidak harus membawa handphone ke dalam tandas dalam keadaan ayat-ayat al-Quran tertera di paparan skrin handphone tersebut kerana ia dikira menghina al-Quran. Namun tidak mengapa membawa masuk handphone tersebut ke dalam tandas dalam keadaan paparan skrin tidak mengandungi ayat-ayat al-Quran (setelah ditutup program al-Quran).
Ini ialah kerana tidak terdapat huruf-huruf al-Quran di dalam handphone tersebut kerana ia disimpan dalam bentuk sistem binari yang menggunakan kod-kod tertentu dan setiap kod mengandungi 8 digit….dan begitulah seterusnya seperti huraian pakar dalam bidang ini. Perkara ini adalah seumpama seorang yang hafaz al-Quran memasuki tandas dalam keadaan al-Quran berada dalam jiwanya.
Lujnah Daimah untuk Kajian Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi telah mengeluarkan fatwa seperti yang dinyatakan oleh Dr Umar bin Muhamad as-Sabil rahimahullah: Apabila dirakam al-quran ke atas kaset dengan segala jenisnya seperti tali keset, video dan CD yang digunakan di dalam komputer atau seumpamanya, maka adalah harus bagi seorang yang berhadas kecil atau hadas besar menyentuhnya. Ini ialah kerana kaset dan yang seumpama dengannya tidak dinamakan mashaf (al-Quran) kerana al-Quran tidak boleh dibaca secara terus (direct) daripadanya. Adapun al-Quran yang didengari atau dibaca daripadanya adalah dengan bantuan alat-alat khusus yang lain. Oleh itu kaset-kaset ini tidak terpakai padanya seperti hukum menyentuh mashaf al-quran yang mesti berada dalam keadaan suci. Begitu juga fatwa yang telah dikeluarkan oleh Ahli-Ahli Lujnah Daimah untuk Kajian Ilmiah dan
Fatwa Arab Saudi yang diketuai oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baz.
Teks fatwanya ialah; "Tidak mengapa membawa atau menyentuh kaset yang dirakam di dalamnya al-Quran bagi orang yang sedang berjunub dan seumpamanya, sekian Wabillahi at-Taufiq".
Kesimpulannya, CD yang dimasukkan al-Quran di dalamnya tidak dikira sebagai mashaf al-Quran. Begitu juga dengan handphone yang dimasukkan al-Quran di dalamnya tidak dikira sebagai mashaf al-Quran. Wallahu A'lam. (tamat nukilan dengan adaptasi kajian Dr. Husam Affanah, Prof Fiqh dan Usul Universiti al-Quds, Palestin).
Sebagai kesimpulan, tidak mengapa bagi seseorang yang berada dalam keadaan berhadas samada hadas kecil atau hadas besar menyentuh atau membawa CD, PDA dan handphone yang dimasukkan ke dalamnya program al-Quran. Juga tidak mengapa membawa peralatan-peralatan tersebut ke dalam tandas dengan syarat ayat-ayat al-Quran tidak terpapar pada skrin. Juga tidak mengapa dan tidak dikira menghina al-Quran apabila seseorang itu meletakkan handphone atau PDA di dalam poket seluarnya setelah program al-Quran dimatikan dan tidak tertera ayat-ayat al-Quran pada skrin peralatan tersebut.
  والله أعلم
Rujukan
1) Islamonline (kajian Prof Dr. Husam Affanah, Prof Fiqh dan Usul Universiti al-Quds, Palestin)
Disediakan oleh: Ustaz Ahmad Zainal Abidin
Setiausaha MUIS

Wednesday, September 12, 2012

Gangguan Jin



Apa Ikhtiar Yang Boleh Dilakukan?
"Gangguan jin menyerang tidak kira masa dan orang. Kita perlu mengetahui sedikit ilmu asas bagaimana untuk berhadapan dengan situasi gangguan jin dan makhluq halus. Ia baik untuk melindungi diri sendiri, keluarga dan orang yang terdekat dengan kita.

Berikut ialah antara ikhtiar segera yang boleh dilakukan oleh seseorang Muslim jika berhadapan dengan gangguan jin, contohnya kerasukan atau diusik dalam bentuk jelmaan atau usikan:

1. Mula-mula sekali, beristighfarlah kepada ALLAH, tauhidkan ALLAH dan luruskan pengharapan yang tinggi bahawa hanya ALLAH yang boleh bantu untuk menyelesaikan masalah gangguan itu.

2. Menyebut nama ALLAH dengan membaca “بسم الله” (bismillah) dan fahami bacaan tersebut.

3. Memohon perlindungan dengan ALLAH dari Syaitan yang dilaknat dengan membaca beberapa kali dengan jelas “اعوذ بالله من الشيطان الرجيم” (a`udzu billahi minasy-syaitaniirajim). Sebaik-baiknya fahami dan hayati sungguh-sungguh ayat tersebut.

4. Membaca beberapa kali surah al-Falaq dan sebaik-baiknya hayati ia.

5. Membaca beberapa kali surah an-Nas dan sebaik-baiknya hayati ia.

6. Membaca beberapa kali ayat al-Kursi (ayat ke-255 dari surah al-Baqarah) dan sebaik-baiknya hayati ia.

7. Bertakbir “الله اكبر” (Allahu Akbar) beberapa kali dan fahami maksudnya.

Itulah antara ikhtiar asas yang boleh dilakukan oleh seseorang apabila berlaku kecemasan sekiranya ada gangguan jin. Bacalah ayat-ayat di atas berulang-ulang kali dan dengan jelas. Jika kes kerasukan, bacalah dengan jahar (jelas dan bukan perlahan suaranya) agar jin yang nakal itu dengar. Tidak perlu tergopoh-payah ketika membacanya.

Teruskan membacanya walaupun mungkin kalian diejek, diludah, dimarah, dijerit, dikutuk, diganggu, dijeling, dimaki dan ditertawa oleh jelmaan jin atau mangsa rasukan. Sabar, cuba abaikan gangguan itu dan panjatkan pengharapan kepada pertolongan ALLAH.  ALLAH berkuasa ke atas segala sesuatu.
Insya’ ALLAH, dengan kehendak ALLAH, gangguan itu akan berhenti dan orang yang dirasuk itu akan sembuh.

Sebagai tambahan, boleh juga dibaca:

8. Membaca ucapan berikut beberapa kali sambil menghayatinya:

السميع العليم في الارض ولا في السماء وهو شيء بسم الله الذي لا يضر مع اسمه

(bismillahilladzi la yadhurru ma`asmihi syai’un fil-ardh wa la fissama’, wa hua assami`ul-`alim)

Maksudnya: “Dengan nama ALLAH yang dengan namaNYA, tidak ada sesuatu apa pun di darat yang dapat memberikan mudharat, tidak juga di langit. Dan DIA lah Tuhan Yang Maha Mendengar, Maka Mengetahui”

9. Membaca ucapan berikut beberapa kali sambil menghayatinya:

اعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق

(a`udzu bi kalimaati llahi ttammati min sharri ma khalaq)

Maksudnya: “Aku berlindung dengan kalimah-kalimah ALLAH yang sangat sempurna, dari segala kejahatan yang ada.”

10. Baca surah al-Fatihah dan fahami ia.

11. Baca surah al-Baqarah. Kalau tak sempat baca surah al-Baqarah atau tidak hafal, bolehlah pasang audio surah al-Baqarah.

Ikhtiar-ikhtiar di atas mempunyai fadhilat yang berbeza-beza tapi mempunyai maksud umum yang sama iaitu meminta perlindungan dengan ALLAH dari kejahatan makhluq samada dari kalangan jin atau manusia atau haiwan.

Percayalah sungguh-sungguh bahawa ALLAH sedang mendengar permintaan kita tatkala kita sedang memohon daripadaNYA. Dan yang paling penting, teguhkan hati bahawa hanya ALLAH yang mampu selesaikan masalah itu. ALLAH Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan DIA lah yang hanya boleh membantu.
 Umrah disini..
ALLAHU A`LAM.